- Detail
- Dilihat: 26413
JAKARTA, KOMPAS — Berdasarkan pengamatan Nielsen mulai Januari-September 2015, program serial televisi dinilai masih populer dengan capaian rating tertinggi dibandingkan genre program lainnya. Sebagian program itu ditayangkan pada waktu utama pukul 18.00-21.59 yang berpotensi jumlah penonton tinggi sehingga mampu meraih poin rating tinggi.
Nielsen mencatat, program serial meraih rata-rata 1,7 poin rating, kemudian program acara spesial mendapatkan 1,2 poin rating, program film dan program anak-anak 1,1 poin rating, serta program hiburan mencapai 1,0 poin rating. Genre program lainnya, seperti informasi, berita, agama, dan olahraga rata-rata di bawah 1 poin rating.
"Program serial masih populer karena walaupun jam tayangnya hanya 10 persen dari total waktu siaran, penonton di 11 kota di Indonesia menghabiskan 20 persen waktu menontonnya untuk program serial. Jumlah waktu ini sama dengan persentase waktu yang digunakan untuk menonton program hiburan," kata Mochammad Ardiansyah, Direktur Media Nielsen Indonesia, Rabu (28/10) di Jakarta.
Program serial didominasi serial lokal dengan 212 judul dan porsi waktu tayang 59 persen. Meski demikian, para penonton di 11 kota Indonesia cenderung suka serial asing, seperti serial Turki dengan waktu tonton 31 menit dan India 21 menit. Sementara itu, waktu tonton serial lokal cenderung lebih pendek, hanya 18 menit.
Tanggung jawab sosial
Bekti Nugroho, komisioner Bidang Kelembagaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), mengatakan, pada prinsipnya, fungsi lembaga penyiaran televisi bukan semata-mata sebagai hiburan, melainkan memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat karena telah menggunakan frekuensi publik yang terbatas.
"Pemilik modal mendapatkan keuntungan triliunan rupiah dari industri televisi, mereka juga mendapatkan keuntungan akses dan dukungan politik. Tetapi, apa kontribusi mereka terhadap peradaban bangsa ini? Inilah yang perlu dipikirkan, bagaimana pentingnya membangun kesadaran bersama bahwa televisi bisa mencerdaskan, memberikan hiburan yang sehat, menawarkan nilai, menghargai pluralisme dan sebagainya," katanya.
Bertolak dari pemikiran itu, KPI rutin menggelar survei indeks kualitas program siaran televisi dengan harapan muncul alternatif acuan bagi pemasang iklan untuk memasang iklan, terutama pada acara-acara yang berkualitas secara konten.(ABK)
Sumber: Harian Kompas, Kamis 29 Oktober 2015
Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI Pusat) melayangkan surat imbauan kepada semua lembaga penyiaran radio untuk selektif memilih lagu sebelum disiarkan kepada pendengarnya. Imbauan ini disampaikan terkait temuan oleh KPI Pusat di beberapa stasiun radio sering menyiarkan lagu-lagu dengan lirik bermuatan seks atau cabul. KPI Pusat juga mendapatkan aduan dari masyarakat terkait hal yang. Demikian disampaikan KPI Pusat dalam surat imbauannya kepada seluruh stasiun radio, Senin, 26 Oktober 2015.
Jakarta – KPI Pusat dan Dewan Juri Anugerah KPI 2015 terpilih lakukan rapat perdana di kantor KPI Pusat, Jumat, 23 Oktober 2015. Para juri tersebut segera bekerja melakukan penilaian secara independen terhadap acara-acara TV yang dinilai terbaik oleh stasiun TV sesuai dengan kategori yang di kompetisikan.
Jakarta – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mengundang lembaga penyiaran serta stakeholder terkait untuk terlibat dalam FGD (focus grup diskusi) bertajuk “Batasan Siaran Kekerasaan dalam Program Jurnalistik”, Kamis, 22 Oktober 2015. FGD tersebut menghadirkan narasumber dari Komisioner KPI Pusat dan Anggota Dewan Pers.
Di dalam presentasinya, Idy menjelaskan tujuan pembatasan dan pelarangan tayangan kekerasaan di layar kaca yakni untuk memberikan perlindungan terhadap public khususnya anak dan remaja, memberikan kenyamanan publik menerima siaran, tidak menimbulkan ketakutan, kengerian atau perasaan traumatik.
Sementara itu, Anggota Dewan Pers Stanley Adi Prasetyo dalam presentasinya mengemukakan jika masih banyak stasiun televisi menggunakan adegan kekerasan sebagai hal pokok pada setiap tayangannya. Menurutnya adegan kekerasan menyebar dalam berbagai jenis program acara seperti berita, animasi anak, drama dewasa, drama sinetron, olahraga bahkan realty show.
Stanley khawatir dampak yang terjadi akibat tayangan kekerasaan khususnya bagi anak-anak. Mereka, kata Stanley, akan merasa terbiasa dengan tindak kekerasan dan bukan tak mungkin anak-anak akan melakukan tindak kekerasan tanpa rasa takut.

