Dengan status televisi publik, Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI), harus menjadikan publik sebagai "majikan". Bukan sebaliknya, mengekor kepada pemerintah. Setidaknya, itulah salah satu harapan publik yang disampaikan pembicara dalam diskusi "Mempertahankan Eksistensi TVRI sebagai TV Publik", di ruang rapat PT Media Fajar, Jumat, 28 Januari 2011.

Diskusi yang juga untuk menjaring anggota Dewan Pemirsa tersebut, dihadiri seratus-an peserta dari berbagai kalangan. Mulai akademisi, tokoh masyarakat, mahasiswa, aktivis LSM hingga pemuda.

Diskusi yang dipandu Wahyu Purwoko Yudiantoro dan Dwi dari TVRI tersebut, menghadirkan lima pembicara. Yaitu pakar komunikasi Unhas Prof Dr Alimuddin Unde, Ishak Ngeljaratan (Budayawan/Dosen Filsafat), Aswar Hasan (Ketua KPID Sulsel), Sukriansyah S Latief (Praktisi Media), dan Prof Musa Asy'arie (anggota Dewan Pengawas TVRI).

Kadis Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Sulsel, Masykur A Sultan dalam sambutannya mengungkapkan, semangat internal TVRI sangat kuat untuk menjadi televisi publik. Meski demikian kata Masykur, Pemprov Sulsel akan selalu menjadi mitra. TVRI sebut dia adalah televisi yang bisa membentuk citra daerah yang lebih baik.

Ketua Dewan Pengawas TVRI, Hazairin Sitepu pada kesempatan tersebut menyampaikan hasil survei AC Nielsen yang menyebutkan bahwa rating TVRI Sulsel sudah di atas TVOne. Hazairin juga menyampaikan beberapa program unggulan TVRI ke depan. Di antaranya, Suku-suku dan Cerdas Ria.

Prof Alimuddin Unde yang menjadi pembicara pertama, menyampaikan bahwa TVRI sebagai televisi publik mengemban tugas berat. Pasalnya, esensi mendasar televisi publik tidak bisa dipisahkan dari publik.

"Esensi mendasar TVRI harus menjadikan publik sebagai majikan. Tapi saat ini TVRI seakan-akan memiliki dua majikan, yaitu publik di satu sisi, dan pemerintah di sisi lain," ungkap Alimuddin.

Dia melanjutkan, cikal bakal TVRI memang lahir dari pemerintah, tapi sebagai televisi publik, TVRI harus melepaskan diri dari pemerintah. "Di Amerika televisi memang didanai pemerintah tapi kontennya diisi publik. Kalau publik mengkritik, telinga pemerintah tidak bisa merah," jelasnya.

Pembicara lainnya, Ishak Ngeljaratan mengatakan, layar TVRI tidak boleh kembali kecil seperti dulu yang hanya menyiarkan aktivitas pemerintah. Pemerintah saat ini, lanjut Ishak, semakin elitis dan semakin jauh dari grassroot. Sebagai televisi publik, TVRI harus menjadi corong aspirasi masyarakat. Publik harus menjadi cermin.

"Kita juga ingin entertaining yang dipertontonkan oleh publik," ucap Ishak. Dengan begitu, katanya, publik seakan-akan menonton dirinya sendiri sehingga mereka jatuh cinta kepada TVRI.

"Mudah-mudahan, TVRI mampu mematangkan emosi publik, membangun moralitas yang luar biasa. Televisi publik tidak boleh netral, tapi dia harus mati-matian membela rakyat," tegas Ishak.

Aswar Hasan yang mendapat giliran ketiga, menyatakan bahwa TVRI harus mengawal kebijakan publik sejak dirumuskan sampai dievaluasi. TVRI, sebut Aswar, harus memerankan tugas itu dengan baik. Harus menjadi jembatan emas antara publik, pemerintah, dan sektor swasta.

TVRI lanjut Aswar, juga harus menjadi sumber aspirasi sekaligus sumber inspirasi. Peran ini kata dia memang berat karena TVRI diperebutkan banyak kepentingan. Sebagai televisi publik, TVRI memiliki banyak fungsi, antara lain, harus mampu mendidik publik, juga memberikan pencerahan. "Juga harus menjadi sumber informasi, perekat, fungsi kontrol, early warning, korelasi, surveilance, melakukan literasi, juga aspirasi," ujarnya.

Aswar juga menambahkan, TVRI harus memosisikan masyarakat sebagai primer actor sekaligus primer user. Persoalan penting TVRI, kata dosen Unhas itu, adalah kapasitas updating teknologi yang kalah jauh dari televisi swasta, ketersediaan dana, juga sumber daya manusia. Budaya kompetitif juga rendah karena selama ini, mentalitas pegawai negeri yang dikedepankan sehingga susah untuk berkompetisi.

Persoalan lainnya, citra yang belum terbangun dengan baik, seolah-olah program TVRI itu kelas dua. "Tapi dalam KPID Award yang kami gelar, TVRI selalu meraih banyak penghargaan," ujarnya.

Ada lima peluang TVRI yang dilihat Aswar, yakni hak siaran secara nasional, satu-satunya cakupan siaran terluas sehingga menjadi peluang. Pasalnya, orang beriklan akan bertanya cakupan siaran. Selain itu, juga memiliki hak budget APBN, juga memiliki jatah iklan sekitar 15 persen. "Peluang lainnya, ada media penyiaran yang bertempur karena kepentingan pemiliknya, dan TVRI satu-satunya lembaga penyiaran yang memiliki peluang di tengah kompetisi kapitalisasi televisi swasta," kata Aswar.

Pembicara lainnya, Sukriansyah S Latief, memulai pembicaraan dengan sebuah cerita. Tentang pertemuannya dengan orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes.

Uki, sapaan akrab Sukriansyah, ditantang untuk membuat televisi yang membuat penonton tidak mengernyitkan dahi. Itu, lanjut Uki, indikator bahwa bad news is good news bukan zamannya lagi.

Media sambung Uki, tidak pernah mati karena persaingan. "Media termasuk TVRI akan mati kalau dibunuh orang-orang di dalamnya. Kalau TVRI mau hidup, dia harus tahu bagaimana mengkreasi program yang diminati publik. Banyak orang tidak mau menonton hal-hal yang tidak menggairahkan hidup. TVRI harus on the track, tidak perlu ikut televisi swasta yang banyak membuat program bombastis," jelasnya.

Pembicara terakhir, Prof Musa Asy'arie mengatakan, televisi publik adalah televisi yang tidak antirealitas dan bersifat manusiawi. Karakter manusia kata dia, mudah bosan meskipun disuguhi hal yang indah-indah. Realitas itu, sebut dia, bisa ditampilkan secara utuh, termasuk sisi manusiawi. Musa mengaku hadir untuk mendorong dewan pemirsa. Ini kata dia penting untuk memunculkan semua kekuatan publik. "Demokrasi yang muncul sekarang ini dikuasai kekuatan kapital. Kalau ada dewan pemirsa, maka kekuatan publik akan muncul. Dewan pemirsa bisa digenjot agar muncul di kota-kota besar. Kalau tidak, akan dikooptasi kekuatan pemerintah atau digilas kekuatan kapital," jelasnya.

Peserta terlihat antusias bertanya. Abubakar misalnya, melihat tayangan TVRI tidak menarik minat generasi muda. Dia mengharapkan TVRI bisa kreatif seperti menampilkan acara talkshow di luar ruangan. Peserta lainnya, Majid mengharapkan diskusi ini tidak hanya menjadi keranjang sampah, tapi bisa menghasilkan program yang mendorong kenaikan rating TVRI. Peserta lainnya, Abdul Gafar yang juga dosen Unhas dan Universitas Fajar, mengharapkan TVRI sudah merekrut SDM dari kalangan muda. Red/RG dari Fajar Online