Tayangan TV Mendapat Sorotan
Seorang bocah berusia 7 tahun berusaha mencoba bunuh diri dengan menenggak racun. Anak yang baru duduk di bangku kelas 1 SD itu sudah tiga kali melakukan upaya bunuh diri yang diduga akibat tekanan mental di keluarganya. Anak yang masih bau kencur ini mengaku mendapat “ilmu” bunuh diri dari tayangan televisi (TV).
Seorang bocah berusia 7 tahun berusaha mencoba bunuh diri dengan menenggak racun. Anak yang baru duduk di bangku kelas 1 SD itu sudah tiga kali melakukan upaya bunuh diri yang diduga akibat tekanan mental di keluarganya. Anak yang masih bau kencur ini mengaku mendapat “ilmu” bunuh diri dari tayangan televisi (TV).
Itulah fakta yang disampaikan Psikolog Shinta Sari pada saat kegiatan Sarasehan Potret Layar Kaca dalam Perspektif Masyarakar Daerah di Hotel Lombok Raya Mataram, Kamis (5/9). Psikolog kondang ini menuturkan pengalamannya tersebut sebagai salah satu contoh dampak negatif tayangan TV pada anak-anak.
Dalam sarasehan yang digelas Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTB tersebut, dibedah berbagai tayangan TV dari beragam perspektif di daerah.”Kebanyakan anak-anak yang menghabiskan waktunya di depan TV tidak bisa melakukan sosialisasi dengan rekannya,”katanya memberikan contoh lain dampak tayangan TV yang akhir-akhir ini kerap membuat cemas para orang tua.
Dengan beragam macam hiburan yang ditawarkan, TV sudah menjadi teman setia warga Indonesia mulai dari kelas atas hingga kelas bawah termasuk juga anak-anak. Bahkan secara ekstrem, Shinta menyebut TV sudah menjadi orang tua bagi anak-anak yang tidak diasuh langsung oleh orang tuanya. “Memang ada pengaruh positif dan negatifnya, namun cenderung terlihat dampak negatif,”katanya.
Sayangnya, tayangan TV yang selama ini dianggap meresahkan justru menjadi favorit penonton. Sebagai contoh acara gosip yang kontroversial dan berbagai acara hiburan yang kelewatan batas selalu menjadi acara favorit.”Tayangan yang memiliki rating tinggi hampir semuanya bermasalah,” kata Ketua KPID NTB Badrun AM..
Anggota KPI Pusat Dr Yudariksawan menyampaikan beberapa tayangan TV yang seringkali menyesatkan penonton. Dia mencontohkan acara reality show. Sebuah acara fakta namun seringkali diperankan oleh model. Kadang acara reality show ini juga kerap mendapat teguran dari KPI.”Kenapa tidak reality show ini masuk dalam film biar bisa dilakukan penyensoran,” usulnya.
Lembaga penyiaran seperti TV dan radio selama ini menggunakan ruang publik. Seluruh masyarakat dapat mengakses informasi yang ditayangkan. Oleh karena itu, kata Yuda, lembaga penyiaran ini harus mengembalikan acara ke publik.”:Jadi harus bertanggungjawab pada publik,”katanya.
Pembicara lainnya, Putra Nababan, salah satu presenter kondang stasiun TV swasta menguraikan tentang kerja sebuah acara di TV. Dia juga memaparkan tentang produksi sebuah acara dan sebuah berita serta konsekuensi yang dihadapinya.
Pada dasarnya, kata Putra, masyarakat pulalah yang membuat tayangan TV tertentu tetap menjadi rating tertinggi. Pengelola stasiun TV tinggal mengemas kesenangan masyarakat tersebut menjadi sebuah tontonan. “Sederhana cara menghindarinya, matikan TVnya,”ujarnya.
Putra berpendapat, penonton sebenarnya penentu stasiun TV untuk membuat tayangan. Pengelola membuat tayangan berdasarkan minat penonton. Seandainya secara idealis TV itu menayangkan acara yang dianggap berkualitas, pertanyaannya itupun dikembalikan pada masyarakat.”Apakah siap masyarakat kita menyaksikan tayangan berkualitas,”katanya dalam nada tanda tanya.
Dari perspektif lokal, wartawan Lombok Post H Rudi Hidayat melihat selama ini pemberitaan TV nasional untuk NTB kerap mengambil yang negatifnya. Ada anggapan, bahwa hanya berita buruk sajalah yang bisa naik tayang pada TV nasional.”Contohnya demo, kalau tidak rusuh, tidak ribut tidak akan naik tayang,”ujarnya.
Beberapa peserta yang ikut dalam sarasehan ini baik dari kalangan akademisi, tuan guru, tokoh masyarakat, mahasiswa, pers sepakat dengan pendapat Rudi. Mereka berpendapat, tayangan TV nasional tentang NTB selama ini, NTB adalah daerah konflik dan selalu digambarkan dengan citra buruk.
Untuk kasus di NTB sendiri, Rudi memberikan masukan pada KPID NTB yang selama ini memberikan teguran pada pencipta lagu lokal yang bernada porno. Menurut Rudi, itu langkah bagus, hanya saja KPID tidak sekadar memberikan teguran semata melalui surat tapi mengajak dialog para pelaku seni tersebut.”:Siapa tahu dengan diajak berdialog, seperti ini para seniman kita bisa mendapat inspirasi,”ujarnya. Red/RG dari Lombok Post
Itulah fakta yang disampaikan Psikolog Shinta Sari pada saat kegiatan Sarasehan Potret Layar Kaca dalam Perspektif Masyarakar Daerah di Hotel Lombok Raya Mataram, Kamis (5/9). Psikolog kondang ini menuturkan pengalamannya tersebut sebagai salah satu contoh dampak negatif tayangan TV pada anak-anak.
Dalam sarasehan yang digelas Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTB tersebut, dibedah berbagai tayangan TV dari beragam perspektif di daerah.”Kebanyakan anak-anak yang menghabiskan waktunya di depan TV tidak bisa melakukan sosialisasi dengan rekannya,”katanya memberikan contoh lain dampak tayangan TV yang akhir-akhir ini kerap membuat cemas para orang tua.
Dengan beragam macam hiburan yang ditawarkan, TV sudah menjadi teman setia warga Indonesia mulai dari kelas atas hingga kelas bawah termasuk juga anak-anak. Bahkan secara ekstrem, Shinta menyebut TV sudah menjadi orang tua bagi anak-anak yang tidak diasuh langsung oleh orang tuanya. “Memang ada pengaruh positif dan negatifnya, namun cenderung terlihat dampak negatif,”katanya.
Sayangnya, tayangan TV yang selama ini dianggap meresahkan justru menjadi favorit penonton. Sebagai contoh acara gosip yang kontroversial dan berbagai acara hiburan yang kelewatan batas selalu menjadi acara favorit.”Tayangan yang memiliki rating tinggi hampir semuanya bermasalah,” kata Ketua KPID NTB Badrun AM..
Anggota KPI Pusat Dr Yudariksawan menyampaikan beberapa tayangan TV yang seringkali menyesatkan penonton. Dia mencontohkan acara reality show. Sebuah acara fakta namun seringkali diperankan oleh model. Kadang acara reality show ini juga kerap mendapat teguran dari KPI.”Kenapa tidak reality show ini masuk dalam film biar bisa dilakukan penyensoran,” usulnya.
Lembaga penyiaran seperti TV dan radio selama ini menggunakan ruang publik. Seluruh masyarakat dapat mengakses informasi yang ditayangkan. Oleh karena itu, kata Yuda, lembaga penyiaran ini harus mengembalikan acara ke publik.”:Jadi harus bertanggungjawab pada publik,”katanya.
Pembicara lainnya, Putra Nababan, salah satu presenter kondang stasiun TV swasta menguraikan tentang kerja sebuah acara di TV. Dia juga memaparkan tentang produksi sebuah acara dan sebuah berita serta konsekuensi yang dihadapinya.
Pada dasarnya, kata Putra, masyarakat pulalah yang membuat tayangan TV tertentu tetap menjadi rating tertinggi. Pengelola stasiun TV tinggal mengemas kesenangan masyarakat tersebut menjadi sebuah tontonan. “Sederhana cara menghindarinya, matikan TVnya,”ujarnya.
Putra berpendapat, penonton sebenarnya penentu stasiun TV untuk membuat tayangan. Pengelola membuat tayangan berdasarkan minat penonton. Seandainya secara idealis TV itu menayangkan acara yang dianggap berkualitas, pertanyaannya itupun dikembalikan pada masyarakat.”Apakah siap masyarakat kita menyaksikan tayangan berkualitas,”katanya dalam nada tanda tanya.
Dari perspektif lokal, wartawan Lombok Post H Rudi Hidayat melihat selama ini pemberitaan TV nasional untuk NTB kerap mengambil yang negatifnya. Ada anggapan, bahwa hanya berita buruk sajalah yang bisa naik tayang pada TV nasional.”Contohnya demo, kalau tidak rusuh, tidak ribut tidak akan naik tayang,”ujarnya.
Beberapa peserta yang ikut dalam sarasehan ini baik dari kalangan akademisi, tuan guru, tokoh masyarakat, mahasiswa, pers sepakat dengan pendapat Rudi. Mereka berpendapat, tayangan TV nasional tentang NTB selama ini, NTB adalah daerah konflik dan selalu digambarkan dengan citra buruk.
Untuk kasus di NTB sendiri, Rudi memberikan masukan pada KPID NTB yang selama ini memberikan teguran pada pencipta lagu lokal yang bernada porno. Menurut Rudi, itu langkah bagus, hanya saja KPID tidak sekadar memberikan teguran semata melalui surat tapi mengajak dialog para pelaku seni tersebut.”:Siapa tahu dengan diajak berdialog, seperti ini para seniman kita bisa mendapat inspirasi,”ujarnya. Red/RG dari Lombok Post