Penting Utamakan Jurnalisme Damai

Sample ImageSaat ini, fungsi media khususnya televisi sebagai media hiburan lebih menonjol dari pada media lainnya. Karenanya, hal-hal yang substansial yang justru penting ditampilkan dalam siaran televisi menjadi terbatas karena dominasi hiburan tersebut. Komentar itu diutarakan Wakil Ketua KPI Pusat, Nina Mutmainnah, ketika menjadi narasumber rapat soal “Pengaruh Media dalam Pembentukan Akhlak dan Konflik Bernuansa Agama” di kantor Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), Rabu 27 Oktober 2010.


Saat ini, fungsi media khususnya televisi sebagai media hiburan lebih menonjol dari pada media lainnya. Karenanya, hal-hal yang substansial yang justru penting ditampilkan dalam siaran televisi menjadi terbatas karena dominasi hiburan tersebut. Komentar itu diutarakan Wakil Ketua KPI Pusat, Nina Mutmainnah, ketika menjadi narasumber rapat soal “Pengaruh Media dalam Pembentukan Akhlak dan Konflik Bernuansa Agama” di kantor Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), Rabu 27 Oktober 2010.

“Pengemasan hiburannya sudah begitu dominan. Padahal, fungsi media seperti lembaga penyiaran televisi untuk publik tidak hanya itu. Fungsi pendidikan atau edukasinya juga harus dipikirkan,” lanjutnya.

Sementara itu, Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers, mengharapkan agar media seperti televisi menghindari adanya tayangan-tayangan kekerasaan, mesum dan berbau konflik SARA. Menurutnya, sangat penting mengutamakan jurnalisme damainya. Ini disesuaikan dengan kondisi Indonesia yang beragam.

Sorotan soal televisi juga dilontarkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin menilai ada di antara media televisi yang cenderung memprovokasi dalam pemberitaan soal konflik. Selain itu, isi pemberitaan terkadang tidak berimbang. Ditambah lagi, lanjutnya, para jurnalis banyak yang belum profesional.  

“Publik juga belum punya kesadaran dalam mengontrol media. Jadi, menurut saya, sangat penting adanya kampanye jurnalisme damai. Selain itu, saya lihat netralitas para pemilik media harus lebih diperhatikan.  Masyarakat tidak hanya butuh tontonan tapi juga tuntunan,” tegas KH Ma’ruf Amin.

Dalam kesempatan itu, Nina menyampaikan, KPI sudah melakukan sejumlah upaya untuk menebalkan kesadaran publik untuk mengontrol media melalui program literasi media. “Kita tidak bisa kerja sendiri dalam mengontrol media, kita butuh kepanjangtanganan terutama dari publik yang kritis,” pintanya di depan para peserta rapat tersebut. Red/RG