Yogyakarta - Muatan nilai nasionalisme dan ke Indonesia-an dalam program siaran di televisi mulai menghilang. Program siaran televisi sekarang lebih banyak didominasi muatan hedonisme dan kekerasaan.

“Kami takut jika semakin sering kami disuguhkan dengan tayangan penuh muatan hedonisme, kekerasaan dan tidak mendidik, akan merubah pikiran remaja Indonesia,” ungkap Intan, salah satu mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), UIN Sunan Kalijaga, disela-sela berlangsungnya diskusi uji publik draf P3SPS tahun 2011 di Gedung Rektorat UIN Yogya, Rabu, 22 Juni 2011.

Menurutnya, KPI harus membuat aturan yang tegas kepada lembaga penyiaran agar bisa menciptakan tayangan-tayangan yang sehat dan penuh nilai kebangsaan. “Coba kita lihat tayangan-tayangan sinetron sekarang, yang ada cuman sinetron percintaan dan kekerasaan,” lanjutnya.

Sementara itu, Imam Syafi’i, mahasiswa UIN jurusan KPI lainnya, mengeluhkan banyaknya penggunaan bahasa yang kasar dan tidak sesuai dengan aturan berbahasa Indonesia yang baik. Padahal, penggunaan bahasa Indonesia secara baik bisa menjadi kebanggaan bagi kita.

Tidak itu saja, Imam juga mengkritisi semakin sedikitnya tayangan-tayang yang memberikan informasi soal dunia ilmu pengetahuan. Menurutnya, tayangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat lebih banyak manfaatnya ketimbang tayangan sinetron.

Dalam kesempatan itu, Imam juga menyampaikan dukungannya kepada KPI untuk memperkuat peraturan soal isi siaran. Namun yang paling penting, lanjutnya, harus ada eksekusi yang tegas kepada lembaga penyiaran yang melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut. (Red/RG)