Masyarakat Cerdas, Tontonan Jadi Sehat
Masyarakat yang melek media serta cerdas dalam memilah-milah tayangan televisi akan mampu merubah strategi lembaga penyiaran. Sebaliknya, jika masyarakat tersebut apatis, dapat dijamin tayangan yang kurang baik tidak akan ada perubahan. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Iddy Muzayyad saat menerima kunjungan pengurus Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU) di kantor KPI Pusat, Selasa, 29 Juni 2010.
Masyarakat yang melek media serta cerdas dalam memilah-milah tayangan televisi akan mampu merubah strategi lembaga penyiaran. Sebaliknya, jika masyarakat tersebut apatis, dapat dijamin tayangan yang kurang baik tidak akan ada perubahan. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Iddy Muzayyad saat menerima kunjungan pengurus Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU) di kantor KPI Pusat, Selasa, 29 Juni 2010.
Iddy Muzayyad, salah satu komisioner bidang kelembagaan ini, menegaskan, televisi akan berubah ketika penontonnya punya sensitifitas untuk mengkritisi tayangan-tayangan yang menurut mereka melanggar dan tidak pantas. “Jika masyarakat tambah cerdas menyaksikan siaran televisi, maka televisi merasa harus melakukan perubahan,” jelasnya.
Meskipun tanggungjawab untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan juga tontonan sehat menjadi bagian dari tugas KPI. Namun, Idy memandang perlunya keterlibatan langsung dari masyarakat untuk mendukung terwujudnya tujuan tersebut.
“Paling jitu bermitra dengan masyarakat, agar KPI bisa menciptakan penyiaran yang lebih baik ke depannya nanti.,” kata Iddy.
Hal yang sama turut diungkapkan ketua KPI Pusat, Dadang Rahmat Hidayat. Menurutnya, masyarakat harus cerdas memilih mana tayangan. “Kita tidak akan khawatir jika tayangan televisi sudah bagus karena tidak akan ada yang dirugikan. Tapi, jika tayangannya masih bermasalah kita harus pintar-pintar memilih tontonan,” jelasnya.
Sementara itu, anggota KPI Pusat bidang kelembagaan lainnya, Azimah Soebagyo menyatakan pentingnya peranan masyarakat seperti IPPNU membantu peranan KPI dalam pengawasan isi siaran lembaga penyiaran. Pasalnya, KPI belum bisa mengawasi semua lembaga penyiaran termasuk radio.
Azimah juga memandang perlunya lagi memperbanyak kajian-kajian guna membuat masyarakat menjadi lebih kritis terhadap media. Jika masyarakat kritis dan bisa menyalurkan aspirasi tersebut langsung ke media, hal ini bisa membuat perubahan bagi lembaga penyiaran tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pertanyaan dari pengurus IPPNU mengenai kewenangan dan tugas KPI turut terlontar. Mereka juga menyatakan tentang perlunya KPI untuk melakukan sosialisasi lebih luas ke masyarakat mengenai keberadaan lembaganya. Pasalnya, tidak semua masyarakat mengetahui keberadaan KPI sebagai lembaga negara independen yang mengurusi dunia penyiaran di tanah air. Red/RG
Iddy Muzayyad, salah satu komisioner bidang kelembagaan ini, menegaskan, televisi akan berubah ketika penontonnya punya sensitifitas untuk mengkritisi tayangan-tayangan yang menurut mereka melanggar dan tidak pantas. “Jika masyarakat tambah cerdas menyaksikan siaran televisi, maka televisi merasa harus melakukan perubahan,” jelasnya.
Meskipun tanggungjawab untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan juga tontonan sehat menjadi bagian dari tugas KPI. Namun, Idy memandang perlunya keterlibatan langsung dari masyarakat untuk mendukung terwujudnya tujuan tersebut.
“Paling jitu bermitra dengan masyarakat, agar KPI bisa menciptakan penyiaran yang lebih baik ke depannya nanti.,” kata Iddy.
Hal yang sama turut diungkapkan ketua KPI Pusat, Dadang Rahmat Hidayat. Menurutnya, masyarakat harus cerdas memilih mana tayangan. “Kita tidak akan khawatir jika tayangan televisi sudah bagus karena tidak akan ada yang dirugikan. Tapi, jika tayangannya masih bermasalah kita harus pintar-pintar memilih tontonan,” jelasnya.
Sementara itu, anggota KPI Pusat bidang kelembagaan lainnya, Azimah Soebagyo menyatakan pentingnya peranan masyarakat seperti IPPNU membantu peranan KPI dalam pengawasan isi siaran lembaga penyiaran. Pasalnya, KPI belum bisa mengawasi semua lembaga penyiaran termasuk radio.
Azimah juga memandang perlunya lagi memperbanyak kajian-kajian guna membuat masyarakat menjadi lebih kritis terhadap media. Jika masyarakat kritis dan bisa menyalurkan aspirasi tersebut langsung ke media, hal ini bisa membuat perubahan bagi lembaga penyiaran tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pertanyaan dari pengurus IPPNU mengenai kewenangan dan tugas KPI turut terlontar. Mereka juga menyatakan tentang perlunya KPI untuk melakukan sosialisasi lebih luas ke masyarakat mengenai keberadaan lembaganya. Pasalnya, tidak semua masyarakat mengetahui keberadaan KPI sebagai lembaga negara independen yang mengurusi dunia penyiaran di tanah air. Red/RG