Literasi Media Picu Anak Jadi Kritis
Jakarta - Pendidikan literasi media bagi anak dapat memicu pemahaman mereka untuk kritis terhadap media. Mereka akan paham bagaimana media bekerja dan tahu bahwa isinya adalah rekaan. Selain itu, mereka akan paham jika media itu punya pengaruh dan menggunakannya ada aturannya.
Menurut Wakil Ketua KPI Pusat, Nina Mutmainnah, literasi media bagi anak menjadikan mereka melek media. “Mereka tidak mudah terpengaruh oleh isi media, lebih kritis, bisa menggunakan media dengan benar, dalam perkembangan selanjutnya hingga mereka dewasa,” jelasnya ketika menjadi narasumber seminar sehari tentang “Lingkungan dan Penanaman Nilai-nilai Luhur bagi Anak” di Hotel Millenium, Rabu, 15 Desember 2011.
Kemampuan literasi media, lanjut Nina, membuat anak-anak dan kita mampu membedakan mana yang baik dan buruk di media. Literasi media seperti imun untuk anak agar terhindar dampak buruk media di sekelilingnya.
Pendidikan literasi media bisa dilakukan dimana saja. Nina menjelaskan, dimulai di rumah melalui peran para orang tua. Kemudian di sekolah melalui guru kepada anak didiknya.
Dalam kesempatan itu, Nina memberikan berbagai alasan kenapa anak begitu rentan terpengaruh media. Pertama, daya kritis mereka belum terbentuk. Kedua, jam mengkonsumsi media sangat tinggi. Ketiga, masih banyak isi media yang tidak aman bagi mereka. Dan keempat, peran dari orangtua dan sekolah masih dirasa belum optimal.
Menurut penelitian dari Neil Postman (1982) dan David Buckingham (2000), jutaan anak di seluruh dunia kehilangan masa kanak-kanaknya akibat terlalu banyak mengkonsumsi isi media elektronik yang kebanyakan berupa materi untuk dewasa. Materi dewasa membuat anak menjadi cepat dewasa sebelum waktunya dan ini tentu menimbulkan banyak masalah. Red