Kompetisi karya dunia penyiaran Jatim akan digelar akhir November ini. Ratusan karya jurnalistik televisi dan radio akan bersaing untuk memperebutkan predikat terbaik dalam anugerah ‘KPID Award’. “Sampai pekan lalu, panitia telah menerima lebih dari 350 karya.  Suatu jumlah yang relatif besar, mengingat kompetisi ini baru pertama kalinya digelar. Karya tersebut berasal dari 28 stasiun televisi dan 69 radio di Jatim”, Ujar Surya AKA, Ketua Bidang Kelembagaan KPID Jawa Timur.

Dari kompetisi ini diharapkan akan lahir sejumlah karya terbaik, yang akan memotivasi para pekerja radio dan TV agar dapat berkarya lebih baik lagi.  “Setidaknya, pergelaran pertama ini, bisa menjadi ‘patokan’, untuk penyempurnaan anugerah serupa di tahun-tahun mendatang”, jelas Surya.

Digelarnya anugerah penyiaran ini, dilatarbelakangi makin seringnya televisi dan radio yang dijatuhi peringatan oleh KPID Jatim. Alasanya, karena muncul tayangan yang tidak lagi mengindahkan norma susila dan agama sebagaimana diatur dalam P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran), yang merupakan standar operasional (SOP) televisi dan radio.

Bila tidak diperingatkan, dikhawatirkan dampak siaran bisa merusak moral. Hukuman peringatan ini, tentu saja masih dalam koridor pembinaan.  Oleh karena itu, program siaran yang memang serius menciptakan karya yang obyektif, mendidik dan sekaligus menghibur, perlu diberikan penghargaan. Hadiah yang ditawarkan dalam KPID Jatim Award ini juga cukup menarik, yakni total Rp 150 juta. Namun, peserta diminta untuk tidak terpaku pada berapa besar nilai hadiahnya.

Ada tiga katagori yang diperlombakan, baik antarstasiun televisi maupun antarstasiun radio. Pertama, indepth news, yakni pendalaman berita yang menarik perhatian. Masuk katagori ini pula features, berita yang menekankan dramatisasi seseorang.

Karya features ini ditengarai kurang banyak diminati stasiun TV, karena untuk memperolehnya tak jarang, para pekerja TV harus bekerja keras,menggabungkan gambar-gambar yang terkadang sulit didapat. Misalnya mengenai kehidupan penambang batu belerang di kawah Ijen atau usaha keras menumbuhkan hutan mangrove di kawasan pantai Surabaya Timur. Tak kalah menariknya, kisah sukses seorang yang cacat kaki, menjadi pengusaha pembuat kaki palsu. Atau kisah-kisah pilu dibalik musibah lumpur Porong.

Kedua adalah karya talkshow. Dialog merupakan karya khas televisi dan radio, yang bila digarap serius bisa mendapatkan rating tinggi. Diharapkan, program dialog TV dan radio lokal di Jatim, dapat menyuguhkan karya yang disukai pemirsa.

Ketiga, adalah karya entertainment (hinburan), yakni karya produksi dari pergelaran seni, hiburan. Dapat berupa musik modern, pop, rock atau dangdut. Termasuk pula dalam kategori ini, kesenian tari, pergelaran ludruk, lawak atau jula juli dapat disajikan lebih menarik lagi. “Kita harapkan kesenian seperti wayangkulit, ketoprak, janger atau  kendangkempul, dapat dikemas ulang sehingga disukai oleh pemirsa modern”, kata Surya.

Repackaging inilah yang diharapkan dapat menyelamatkan kesenian ini dari kepunahan. Surya member contoh seperti ‘’Wayangkulit Sak Jaman’’ pergelaran yang mestinya 5 jam, diperas menjadi satu jam tayang, tanpa mengurangi makna ‘’syarat dan rukun’’ nya wayang.

Jujur dan objektif telah menjadi komitmen panitia  dalam menyeleksi karya, begitu juga dalam memilih juri yang tentu saja kredibel dan kapabel di bidangnya. Sebanyak 9 orang dari akademisi, praktisi pers dan penyiaran, budayawan, seniman dan wakil perempuan dilibatkan. KPID-pun sebagai panitia, menjamin tidak akan terlibat dalam penentuan pemenang, karena sepenuhnya hak dewan juri yang memang bersifat independen.

Siapa yang bakal menang? Kita tunggu pengumuman nominasi 8 besar tiap kategorinya pada 23 November nanti. Sedang siapa yang bakal juara akan disiarkan langsung di 23 TV lokal Jawa Timur pada 26 November nanti. Kita nantikan bersama.Red/SH dari KPID Jatim