KPID Jateng Dorong Pengusutan Kasus Silet
Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah (Jateng) Zaenal Petir menyatakan, pihaknya terus mendorong Polri mengusut kasus tayangan Silet pada 7 November 2010 mengenai letusan Gunung Merapi. "Bencana besar yang seharusnya dikembalikan kepada Tuhan YME, justru diputarbalikkan oleh seorang narasumber dari paranormal," kata Zaenal Petir kepada pers di Jakarta, Senin (7/2).
Dalam tayangan Silet edisi 7 November 2010, kata dia, paranormal Permadi menyebut bahwa letusan Gunung Merapi merupakan akibat dari dosa besar Raja Demak, Raden Patah. Di antara dosa besar itu adalah kedurhakaan Raden Patah memaksa ayahnya yang bernama Brawijaya V untuk pindah agama, juga kedurhakaan pada negara dan pada agama.
"Statement paranormal itu tentu saja mengandung unsur sentimen SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Sebab, Raden Patah dan para wali beragama Islam, sementara Prabu Prawijaya V beragama Hindu. Di sini Raden Patah sebagai simbol kerajaan Islam seolah diposisikan sebagai pihak yang merusak," kata Petir.
KPID Jateng menganggap keputusan KPI membredel program Silet menjadi pelajaran bagi semua tayangan media untuk kembali ke jalur informasi yang bersih dan berkualitas. KPID juga mendorong KPI pusat untuk memidanakan kasus itu.
Kasus itu juga telah menjadi perhatian Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ia melayangkan protes tidak lama setelah tayangan tersebut dipublikasikan. Sultan mengajukan surat resmi berkop Gubernur DIY yang isinya memrotes tayangan tersebut, ke KPI Pusat.
Surat protes dari Sultan itu berisi tiga poin pokok. Pertama, pada saat masyarakat sedang mengalami musibah bencana Merapi justru Silet memberikan informasi yang menyesatkan dan menghasut sehingga menyebabkan masyarakat menjadi ketakutan dan panik.
Kedua, tayangan itu menyebabkan orang takut datang ke DIY, sebagian orang tua yang anaknya sekolah/kuliah di DIY, banyak yang disuruh pulang. Dampak lebih luas, masyarakat dan ekonomi DIY lumpuh.
Ketiga, informasi tersebut sangat tidak mendidik dan berbau klenik. Harusnya bencana Merapi dapat dilihat sebagai fenomena alam yang harus dipahami masyarakat secara rasional. Red/RG dari Ant/MI