KPI: Jangan Jadikan Olok-Olok Hal yang Biasa
Jakarta - Setelah menerima pengaduan dari Lentera Indonesia dan Forum Jiwa Sehat, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meneruskan aduan dengan mengadakan dialog terbuka antara Forum Jiwa Sehat bersama beberapa publik figur dalam program yang sering mendapatkan aduan dari masyarakat.
Yenni Rossa dari Forum Jiwa Sehat berkesempatan menyampaikan aspirasinya langsung kepada publik figur yang hadir, diantaranya Raffi Ahmad, Parto, Jessica Iskandar, Uya Kuya, Ramzi, dan Olga Syahputra. Yenni mengatakan bahwa orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) sering menjadi bahan olok-olok dalam program televisi.
"Tujuan Forum Jiwa sehat adalah agar ODMK tidak terus menerus dilanggar hak asasinya dan menghilangkan stigma negatif terhadap ODMK. Banyak yang tidak mengetahui ODMK dapat disembuhkan," ujar Yenni. "Televisi berperan besar menghambat upaya menghilangkan stigma negatif terhadap ODMK," Lanjut Yenni dalam dialog yang diadakan di kantor KPI Pusat, Jumat, 23 Desember 2011 .
Di lain pihak, Parto mengatakan bahwa seringkali dalam salah satu acara TV ucapan yang mengolok-olok ODMK keluar dari para penonton. "Kami tidak bermaksud agar penonton mengeluarkan kata-kata itu, kami hanya ingin melawak," ungkap Parto.
Yenni meneruskan, jika yang terjadi seperti itu maka tugas dari para publik figur adalah meluruskannya dengan mengatakan bahwa tidak boleh mengolok-olok dan informasikan kalau ODMK dapat disembuhkan.
Sebelumnya, Nina Mutmainnah, Wakil ketua KPI Pusat menjelaskan bahwa televisi adalah milik publik dan merupakan media yang paling mudah menjangkau masyarakat, dengan begitu potensi pengaruhnya sangat besar.
Menurut Nina, dampak dari bercanda di televisi yang tidak memperhatikan koridor etika yang ada, tidak hanya berimbas kepada ODMK tetapi juga kepada masyarakat yang lebih luas. "Kita tahu bahwa media dampaknya bisa sampai ke tahap perilaku, kami khawatir jika masyarakat sering disuguhkan dengan tontonan yang melecehkan orang lain, bercanda yang menyinggung etika maka masyarakat akan menganggap bahwa olok-olok itu adalah sebuah hal yang biasa," ucap Nina.
"Kami khawatir pada kondisi riil di masyarakat orang juga dapat mengolok-olok kelompok yang muncul di televisi tersebut, sehingga masyarakat menjadi tumpul sensitivitasnya" lanjut Nina.
Jika kondisinya seperti yang disebutkan oleh Parto maka Nina mengharapkan ada kebersamaan antara KPI dengan para artis dan seniman serta dari pihak televisi memikirkan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki masalah ini.
Surya Utama atau sering dikenal dengan nama Uya Kuya menambahkan bahwa melalui dialog ini, para artis dan seniman menjadi tahu dampak dari bercandaan atau olok-olok yang dapat menyinggung kelompok lain.
Senada dengan Uya Kuya, Raffi Ahmad sebelumnya juga tidak mengetahui dampaknya bisa sejauh seperti yang diceritakan Yenni Rosa dari Forum Jiwa Sehat. "Dari kita teman-teman artis tidak ada maksud apapun untuk menyinggung kelompok lain, kita niatnya hanya ingin menghibur, tapi terimakasih kami menjadi lebih tahu lagi melalui dialog ini, kedepan insya Allah kami akan lebih baik lagi," ujar Raffi.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Pusat, Dadang Rahmat Hidayat meminta kepada publik figur di televisi agar menjadi panutan yang baik bagi masyarakat, karena setiap tindakan dari publik figur berpotensi besar akan diikuti oleh masyarakat.Red/AN