Diskusi KPI-Trans Corp: Hindari Tayangan Sensitif
Jakarta - Lembaga Penyiaran diminta lebih teliti dan berhati-hati ketika menayangkan program acara seperti komedi, live (siaran langsung) dan infotainmen. Program-program tersebut dinilai sering bersinggungan hal sensitif.
Hal-hal yang dikhawatirkan muncul dalam tayangan yakni candaan dengan olok-olokan mengenai hal fisik, kejiwaan, isu traumatik seperti korban perkosaan, wawancara anak dibawah umur mengenai persoalan di bawah umur dan tidak etis, pelecehan terhadap profesi seperti guru, dan kostum artis yang digunakan saat siaran langsung.
Ezki Suyanto, Wakil Ketua KPI Pusat mengatakan, satu hal yang perlu diperhatikan lembaga penyiaran yakni keterlibatan anak-anak untuk urusan yang bukan dunianya. Menurut Ezki, anak-anak tidak boleh dimintai pendapat atau diwawancara untuk persoalan yang bukan urusan mereka seperti kasus perceraian kedua orangtua dan obrolan soal hal-hal dewasa.
“Soal yang melibatkan anak-anak jangan lah. Ini sangat sensitif. Tolong hati-hati kalau mau wawancara mereka jika mereka tidak punya kapasitas menjawab pertanyaan tersebut. Kami tidak ingin hal ini terjadi lagi. Anak-anak patut mendapat perlindungan,” tegas Ezki dalam diskusi yang melibatkan semua elemen produksi dan redaksi Grup Trans Corp (Trans TV dan Trans 7) di Gedung Trans Corp, Senin, 13 Februari 2012.
Nina Mutmainnah, Anggota KPI Pusat yang merangkap Koordinator Isi Siaran, mengkhawatirkan umpatan-umpatan kejiwaan seperti orang gila oleh pengisi acara lawakan atau acara apapun terutama saat siaran langsung. “Memang untuk program recorder ucapan-ucapan tersebut sudah di bib, tapi saya sangat khawatir jika itu siaran langsung. Saya selalu deg-degan,” katanya.
Selain itu, Nina meminta supaya pihak Trans lebih berhati-hati mempersiapkan sebuah program live terutama mengenai cara berpakaian. “Jangan sampai kejadian yang pernah kami keluhkan soal pakaian agnes saat manggung terulang kembali. Kami juga mendapat banyak pengaduan masyarakat mengenai tampilan waria. Kami tidak melarang waria atau banci tampil di TV, yang kami minta tolong jaga penampilannya. Selain itu, kami mengkhawatirkan anak-anak jadi ikutan meniru,” keluh Nina.
Wakil dari Lentera, menambahkan bahwa trauma yang diderita korban kekerasaan seksual tidak bisa diselesaikan dengan cara instant. Ini sangat sulit di lupakan merek. Pemulihan itu bisa menjadi 15 tahun dan itu tidak membuat mereka baik-baik saja. “Saya tidak pernah berani nanya kepada korban mengenai kronologis kejadian yang mereka alami. Kami takutkan bisa menyakitkan mereka. Karena itu, kami merasa sangat sedih dengan adanya bercandaan mengenai hal-hal yang sensitif mengenai ini,” jelasnya.
Menurut Idy Muzayyad, Anggota KPI Pusat bidang Kelembagaan, internal self sensorship yang dijalankan lembaga penyiaran dinilai dapat meminimalisir benturan dengan persoalan sensitif tersebut. Meskipun terkadang ada hal-hal yang terlepas, setidaknya internal sensor membuat banyak perubahan, lanjutnya.
Menyikapi keluhan soal surat teguran yang disampaikan KPID kepada pihak Trans TV dan Trans 7. Dadang Rahmat Hidayat, Anggota KPI Pusat bidang Isi Siaran menjelaskan, bahwa KPI Pusat dan KPID tidak memiliki hubungan struktural dan sifatnya independen. Menurutnya, teguran yang disampaikan KPID itu diperuntukan bagi Trans TV dan Trans 7 di daerahnya.
Azimah Soebagijo, Anggota KPI Pusat bidang Kelembagaan memandang, teguran yang disampaikan KPID dasarnya adalah semangat kearifan lokal dari UU Penyiaran. Setiap daerah itu memiliki standar yang berbeda dalam menyikapi setiap aspek dari siaran yang masuk ke daerahnya. “Ini yang membuat mereka berbeda,” jelasnya.
Sementara itu, Mochamad Riyanto, Ketua KPI Pusat, cukup senang dengan pertemuan seperti ini. Selain sebagai ajang silahturahmi, hal ini dapat membentuk kesamaan persepsi mengenai sebuah aturan penyiaran seperti P3SPS. “Model pertemuan seperti ini sebaiknya juga diikuti oleh lembaga penyiaran lainnya,” kata Riyanto saat menutup jalannya pertemuan.
Dalam pertemuan itu, turut hadir Anggota KPI Pusat bidang Perizinan, Judhariksawan dan perwakilan dari LSF. Jalannya pertemuan berlangsung akrab dan serius hingga sore hari. Red/RG