KPI Minta Hal Sensitif Jangan Jadi Bahan Lelucon

altJakarta - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta candaaan yang bersinggungan dengan hal-hal sensitif seperti korban pemerkosaan jangan lagi menjadi bahan bagi lucu-lucuan. Kasus yang dilakukan Olga yang menyinggung korban pemerkosaan dalam satu program acara televisi diharapkan menjadi kasus yang terakhir.

Menurut Ketua KPI Pusat, Dadang Rahmat Hidayat, media harus mengurangi hal-hal yang tidak baik yang ditimbulkan dari program tayangan. Pasalnya, dampak yang ditimbulkan tidak hanya berlangsung satu atau dua tiga hari, tetapi bisa berkepanjangan. “Kami berharap, kejadian ini menjadi yang terakhir dan tidak terulang lagi,” tegasnya ketika dimintai kata penutup saat acara pertemuan dengan perwakilan sejumlah stasiun televisi terkait kasus candaan Olga di kantor KPI Pusat, Selasa, 20 Desember 2011.

Harapan senada juga disampaikan Wakil Ketua KPI Pusat, Nina Mutmainnah. Menurutnya, kasus Olga merupakan pembelajaran bagi semua. Dan, kasus tersebut jangan pernah terulang kembali. “Saya harap sudah saatnya tayangan televisi ramah untuk semua,” katanya di tempat yang sama.

Dalam kesempatan itu, Nina mengkhawatirkan jika kasus kriminal menjadi bahan olok-olokan yang tidak lumrah, maka yang terjadi adalah ketidaksensitifan. "Ini masalah yang besar dan derita kekerasan terhadap sebagian orang. Ketika tayangan komedi itu mendapatkan sambutan luar biasa dari penonton, penonton tertawa di studio dan mungkin tertawa di rumah, maka itu terjadi ketidaksensitifan dari publik," ungkapnya.

Nina juga menyampaikan, pihaknya menerima banyak pengaduan mengenai Olga sepanjang 2011. Menurut catatan, ada 117 pengaduan dari publik yang masuk ke KPI Pusat yang mengeluhkan candaan Olga di berbagai stasiun televisi.

Sementara itu, salah satu aktivis perempuan yang hadir dalam pertemuan itu, menyebutkan bahwa kasus perkosaan bukanlah bahan yang pantas untuk jadi tertawaan. Bahkan, dia menyayangkan hal ini bisa lepas dari supervisi lembaga penyiaran bersangkutan. “Apakah memang tidak ada batasan yang diberikan Trans Corp. Mana yang pantas dan tidak pantas untuk di improvisasi oleh komedian,” tanyanya.

Perwakilan Trans Crop yang hadir, Andi Chairil, secara langsung menyampaikan permintaan maaf pihaknya mengenai kejadian itu. Menurutnya, apa yang dikatakan Olga tidak ada dalam skenario. “Saya minta maaf sebesar-besarnya. Ini tidak ada di skenario. Kami sudah set up untuk tidak menakuti Olga dan kami sudah brief dia. Memang kami tidak spesifik a sampai z, karena kami berharap Olga juga dapat mengerti itu. Jika itu sebuah kesalahan bahwa kami tidak mem-brief, ya kami terima. Saya tidak mengatasnamakan Olga, tapi secara lisan saya minta maaf. Secara tertulis kami akan rembukan ke dalam dulu,” katanya.

Diakhir pertemuan atau dialog tersebut, pihak Lentara Indonesia menyematkan pin anti kekerasaan seksual kepada Ketua KPI Pusat dan perwakilan Trans Corp. Red