Jurnalisme di Indonesia masih Didominasi Kekerasan
“Pekerja profesional TV adalah kelompok yang pertama dan yang paling menderita akibat dari tidak sehatnya ekosistem industri TV di Indonesia, “ujar Garin Nugroho, sineas, ketika memberikan orasi budaya pada acara penghargaan jurnalisme TV untuk perdamaian dan multikulturalisme, 30 September 2010.Garin menambahkan jurnalisme TV saat ini dipenuhi oleh isi siaran yang vulgar, konsumerisme dan olok-olok. Selain itu kebanyakan berita TV berisi kekerasan seperti penculikan, demonstrasi dengan senjata tajam dan perkelahian.
“Pekerja profesional TV adalah kelompok yang pertama dan yang paling menderita akibat dari tidak sehatnya ekosistem industri TV di Indonesia, “ujar Garin Nugroho, sineas, ketika memberikan orasi budaya pada acara penghargaan jurnalisme TV untuk perdamaian dan multikulturalisme, 30 September 2010.Garin menambahkan jurnalisme TV saat ini dipenuhi oleh isi siaran yang vulgar, konsumerisme dan olok-olok. Selain itu kebanyakan berita TV berisi kekerasan seperti penculikan, demonstrasi dengan senjata tajam dan perkelahian.
Garin menganalisa hal ini diakibatkan oleh tekanan bisnis yang tidak sehat. sehingga pupus kehidupan berbangsa dan bernegara. Garin mengajak para pekerja TV untuk membangun industri TV dengan demokratisasi, kreativitas dan ketrampilan yang beretika. Orasi budaya Garin sekaligus untuk mengumumkan pemenang program "Redaksi Kontroversi" (Trans 7) dengan judul "Jembatan Air Mata di Perbatasan" dinyatakan sebagai pemenang pertama. Sedangkan "Jurnal DAAI" (DAAI TV) dengan judul "Cinta Kasih Pasundan Asih" menempati urutan kedua.
Program yang digagas oleh USAID, yayasan Serasi, yayasan SET dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) ini, menurut Agus Sudibyo, Deputy Director Yayasan Set, bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya TV sebagai agen penjaga dan pengembang pluralisme dan multikulturalisme.
Agus melihat, pemberitaan di TV masih mengambil sudut pandang konflik dan yang terjadi adalah dramatisasi konflik tanpa mempertimbangkan dampak-dampaknya. Untuk itu, melalui program ini, diharapkan media tidak menjadi penambah konflik.
Dadang Rahmat Hidayat, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat yang juga menghadiri acara ini menyampaikan bahwa program ini sejalan dengan yang dilakukan oleh KPI yaitu mendorong terciptanya media yang sehat, berkarakter dan memiliki visi yang bagus. Dalam konteks konflik, saat ini media masih menampilkan konflik secara tidak proporsional sehingga dapat meningkatkan eskalasi konflik.
Dadang menambahkan seharusnya media mengetahui akar konflik sehingga dalam pemberitaannya, media dapat ikut meredam konflik.Red/SH