Iswandi Syahputra Raih Gelar Doktor
Anggota KPI Pusat, Iswandi Syahputra, berhasil merampungkan jenjang S-3 dan meraih gelar Doktor untuk Program Studi Kajian Budaya dan Media dari Universitas Gajah Mada (UGM). Wisuda S-3-nya dilangsungkan bersamaan dengan 1301 lulusan pasca sarjana UGM lainnya pada Rabu 27 Oktober 2010.
Anggota KPI Pusat, Iswandi Syahputra, berhasil merampungkan jenjang S-3 dan meraih gelar Doktor untuk Program Studi Kajian Budaya dan Media dari Universitas Gajah Mada (UGM). Wisuda S-3-nya dilangsungkan bersamaan dengan 1301 lulusan pasca sarjana UGM lainnya pada Rabu 27 Oktober 2010.
Dalam meraih gelar Doktor tersebut, Iswandi, bapak dari dua orang anak ini, hanya memerlukan waktu atau masa studi selama 2 tahun dan 4 bulan. Tentunya, keberhasilan ini menjadi kebahagiaan bagi dirinya, keluarga serta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Adapun disertasi untuk meraih gelar tersebut, Iswandi mengambil judul “Simulasi Islam Mistik dan Implosi Makna Religius dalam Sinetron Rahasia Ilahi Pada Stasiun Televisi TPI” dengan Promotor Prof. Dr. Irwan Abdullah serta Co-Promotor, Prof. Dr. Heru Nugroho dan Dr. Phil. Hermin Indah wahyuni.
Dari abstraksi disertasinya, Iswandi membeberkan, latar belakang penelitiannya dibangun melalui empat informasi pokok. Pertama, terjadi pergeseran makna mistik dari mistik Islam kepada Islam mistik. Mistik Islam merupakan jalan spritual sebagai mainstream kerohanian yang mengalir dalam ajaran semua agama. Kedua, mistik dalam sinetron religius mengacu pada praktek simulasi. Secara sempit, suatu simulasi pada dasarnya diartikan sebagai praktek reka ulang terhadap suatu peristiwa atau realitas. Sehingga, sebuah simulasi bukanlah suatu peristiwa atau representasi realitas. Simulasi hanya menyerupai atau berpura-pura menyerupai suatu peristiwa atau realitas.
Lalu, ketiga, simulasi tersebut dapat dibaca sebagai gerakan menuju implosi makna religius. Dan, keempat, implosi makna tersebut secara subtil menandai berkuasanya suatu rezim tanda. Ujung dari kekuasaan rezim tanda adalah lepasnya kontrol manusia sebagai subjek terhadap benda atau tanda sebagai objek akibat dari implosi makna. Ujung pemikiran Baudrillard tentang simulasi inilah yang dinilai cukup prematur, karena terlalu memberi fokus pada media dan mengabaikan sektor lainnya.
Dalam abstraksi tersebut, juga dijelaskan tentang temuan dari penelitiannya bahwa simulasi citra mistik agama dalam sinetron “Sinetron Ilahi” berlangsung pada empat tahap yaitu, pertama, mistik direpresentasikan melalui peristiwa gaib dan irasional. Kedua, citra mistik memberikan gambaran yang salah akan konsep mistik Islam (sebagai tasawuf) atau realitas Islam mistik. Ketiga, pencitraan mistik mengantarkan agama pada citra yang kejam, menakutkan penuh dengan azab dan siksaan. Tahap ketiga ini mengantarkan pada citra keempat, yaitu citra mistik agama sama sekali tidak berhubungan dengan realitas. Red/RG
Dalam meraih gelar Doktor tersebut, Iswandi, bapak dari dua orang anak ini, hanya memerlukan waktu atau masa studi selama 2 tahun dan 4 bulan. Tentunya, keberhasilan ini menjadi kebahagiaan bagi dirinya, keluarga serta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Adapun disertasi untuk meraih gelar tersebut, Iswandi mengambil judul “Simulasi Islam Mistik dan Implosi Makna Religius dalam Sinetron Rahasia Ilahi Pada Stasiun Televisi TPI” dengan Promotor Prof. Dr. Irwan Abdullah serta Co-Promotor, Prof. Dr. Heru Nugroho dan Dr. Phil. Hermin Indah wahyuni.
Dari abstraksi disertasinya, Iswandi membeberkan, latar belakang penelitiannya dibangun melalui empat informasi pokok. Pertama, terjadi pergeseran makna mistik dari mistik Islam kepada Islam mistik. Mistik Islam merupakan jalan spritual sebagai mainstream kerohanian yang mengalir dalam ajaran semua agama. Kedua, mistik dalam sinetron religius mengacu pada praktek simulasi. Secara sempit, suatu simulasi pada dasarnya diartikan sebagai praktek reka ulang terhadap suatu peristiwa atau realitas. Sehingga, sebuah simulasi bukanlah suatu peristiwa atau representasi realitas. Simulasi hanya menyerupai atau berpura-pura menyerupai suatu peristiwa atau realitas.
Lalu, ketiga, simulasi tersebut dapat dibaca sebagai gerakan menuju implosi makna religius. Dan, keempat, implosi makna tersebut secara subtil menandai berkuasanya suatu rezim tanda. Ujung dari kekuasaan rezim tanda adalah lepasnya kontrol manusia sebagai subjek terhadap benda atau tanda sebagai objek akibat dari implosi makna. Ujung pemikiran Baudrillard tentang simulasi inilah yang dinilai cukup prematur, karena terlalu memberi fokus pada media dan mengabaikan sektor lainnya.
Dalam abstraksi tersebut, juga dijelaskan tentang temuan dari penelitiannya bahwa simulasi citra mistik agama dalam sinetron “Sinetron Ilahi” berlangsung pada empat tahap yaitu, pertama, mistik direpresentasikan melalui peristiwa gaib dan irasional. Kedua, citra mistik memberikan gambaran yang salah akan konsep mistik Islam (sebagai tasawuf) atau realitas Islam mistik. Ketiga, pencitraan mistik mengantarkan agama pada citra yang kejam, menakutkan penuh dengan azab dan siksaan. Tahap ketiga ini mengantarkan pada citra keempat, yaitu citra mistik agama sama sekali tidak berhubungan dengan realitas. Red/RG