Iklan KB dan Alat Kontrasepsi Harus Mengedukasi dan Tepat Sasaran
Jakarta - Berdasarkan data dari yayasan DKT yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat, penggunaan alat kontrasepsi modern di Indonesia masih rendah. DKT merasa perlu untuk melakukan kerjasama dengan berbagai pihak agar penggunaan alat kontrasepsi modern dapat meningkat dan program Keluarga Berencana (KB) dapat berjalan.
Aditya Putra dari DKT mengatakan bahwa salah satu cara untuk mempromosikan program KB dan penggunaan alat kontrasepsi adalah melalui iklan di televisi. Menurut Aditya, kesempatan mengkampanyekan agar orang peduli terhadap KB dan penggunaan alat kontrasepsi melalui media televisi sangat besar.
Hal tersebut disampaikan oleh Aditya beserta delegasi DKT lainnya yaitu, Direktur DKT Todd Allahan-Counry, Toto Budiono, Robert Sumianto, Purwadi Nugroho dan Lidwina G saat melakukan audiensi dengan KPI Pusat, Rabu, 11 Januari 2012 di Kantor KPI Pusat.
Todd Allahan-Counry mengatakan DKT pernah bekerjasama dengan BKKBN, untuk membantu mengkomunikasikan program KB kepada masyarakat. Beberapa iklan layanan masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS juga pernah dibuat oleh DKT bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan Aids.
Menurut Todd, selain untuk meningkatkan penggunaan alat kontrasepsi modern dan mensukseskan program KB, iklan dari DKT juga bertujuan agar masyarakat lebih peduli tentang HIV/AIDS. Untuk itu, Todd meminta pendapat dari pihak KPI mengenai iklan alat kontrasepsi dan program KB dari yayasan DKT yang akan menjadi alat kampanye sehat di televisi.
Di sisi lain, Nina Mutmainnah, Wakil Ketua KPI Pusat berpendapat bahwa harus hati-hati dalam penayangan iklan berbagai produk dewasa, baik itu alat kontrasepsi atau obat-obatan. Menurut Nina, iklan semacam itu tidak boleh ditayangkan pada jam tayang remaja sesuai dengan peraturan KPI (P3SPS).
"Semangat dari iklan KB dan iklan tentang HIV/AIDS sudah sama dengan KPI, dan tujuannya adalah kampanye sehat, tetapi bagaimana caranya, harus tetap mengikuti aturan P3SPS KPI," ujar Nina.
Ketua KPI Pusat Dadang Rahmat Hidayat berpendapat iklan-iklan tersebut harus dalam konteks edukasi dan tidak vulgar sehingga dapat tepat sasaran. Menurut Dadang jika konten iklan tersebut tidak sesuai dengan target audiens dikhawatirkan iklan tersebut akan tidak efektif. "Konten iklan harus dalam konteks edukasi sehingga orangtua dapat menjelaskan," ungkap Dadang.Red/AN