Diet TV untuk Anak
Banyaknya muatan negatif TV dan kurang sempurnanya pengawasan tayangan membuat orangtua perlu untuk melakukan diet TV untuk anak. Hal itu dilakukan dengan cara mengurangi jam anak menonton, dan mengarahkannya pada tayangan-tayangan yang edukatif.
Banyaknya muatan negatif TV dan kurang sempurnanya pengawasan tayangan membuat orangtua perlu untuk melakukan diet TV untuk anak. Hal itu dilakukan dengan cara mengurangi jam anak menonton, dan mengarahkannya pada tayangan-tayangan yang edukatif.
Menurut psikolog anak, Rose Mini, anak harus diajarkan untuk mengatur waktu untuk menikmati media dan juga untuk kegiatan lain. Pasalnya anak-anak masih terlalu muda untuk memilah informasi yang edukatif.
"Anak perlu dijelaskan mengenai tayangan-tayangan televisi, jujur, namun batasi sesuai kebutuhan anak, dan ajarkan cara menyikapinya," kata Rose Mini, pada Seminar "Bijak Menyikapi Media Bagi Buah Hati," di Fakultas Psikologi UI, Depok, Sabtu (17/07/2010).
Anak tertarik pada TV karena sifatnya Audio Visual, dengan stimulus lebih intens dan lebih menarik. Menurut Rose Mini, pola pikir anak cenderung konkrit, apa yang dilihat dianggap benar, dan media merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap pola berpikir dan prilaku anak.
Menurut Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Nina Mutmainah Armando, dalam sehari seorang anak rata-rata dapat menghabiskan waktu didepan televisi sekitar 4-5 Jam, atau sekitar 1.600 jam setahunnya.
Padahal, waktu seorang anak yang dihabiskan dalam sekolah negeri seharinya rata-rata sekitar 3-5 jam, atau 740 Jam setahunnya.
Menurut Nina, kondisi pertelevisian di Indonesia belakangan cenderung tidak menguntungkan, antara lain karena perhitungan komersial yang menempati posisi dominan, dan pengelola media yang cenderung tidak perduli kepada kepentingan anak. Red/RG dari TN
Menurut psikolog anak, Rose Mini, anak harus diajarkan untuk mengatur waktu untuk menikmati media dan juga untuk kegiatan lain. Pasalnya anak-anak masih terlalu muda untuk memilah informasi yang edukatif.
"Anak perlu dijelaskan mengenai tayangan-tayangan televisi, jujur, namun batasi sesuai kebutuhan anak, dan ajarkan cara menyikapinya," kata Rose Mini, pada Seminar "Bijak Menyikapi Media Bagi Buah Hati," di Fakultas Psikologi UI, Depok, Sabtu (17/07/2010).
Anak tertarik pada TV karena sifatnya Audio Visual, dengan stimulus lebih intens dan lebih menarik. Menurut Rose Mini, pola pikir anak cenderung konkrit, apa yang dilihat dianggap benar, dan media merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap pola berpikir dan prilaku anak.
Menurut Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Nina Mutmainah Armando, dalam sehari seorang anak rata-rata dapat menghabiskan waktu didepan televisi sekitar 4-5 Jam, atau sekitar 1.600 jam setahunnya.
Padahal, waktu seorang anak yang dihabiskan dalam sekolah negeri seharinya rata-rata sekitar 3-5 jam, atau 740 Jam setahunnya.
Menurut Nina, kondisi pertelevisian di Indonesia belakangan cenderung tidak menguntungkan, antara lain karena perhitungan komersial yang menempati posisi dominan, dan pengelola media yang cenderung tidak perduli kepada kepentingan anak. Red/RG dari TN