Demo Bakar Ban Bukan Lagi Berita
Ada paradigma baru dari tayangan demonstrasi dengan bakar ban dan lempar batu di televisi. Ke depan, berita seperti ini tak lagi mendapat porsi utama. Mengapa? Pemirsa televisi pada akhirnya bosan dengan suguhan berita kekerasan tersebut.
Kesimpulan tersebut lahir dalam dialog awal tahun dalam rangka pencitraan Sulsel yang lebih baik yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Daerah Indonesia (KPID) di Losari Beach Hotel, malam tadi.
Hal ini diungkapkan Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun. “Dulu, kalau ada berita dari Makassar kami selalu bertanya; ‘Ada bakar ban di mana hari ini? Ada demo apa?’. Namun kemudian belakangan kami menyadari modus seperti ini sudah tidak menjadi berita lagi,” katanya.
Dia menambahkan, sejatinya masyarakat Makassar bukanlah masyarakat yang kasar. “Pencitraan memang menjadi persoalan. Publik membayangkan Makassar dari berita identik dengan kekerasan. Membayangkan orang-orang Makassar barbar. Padahal baik-baik saja. Aman-aman saja. Masalahnya adalah pertarungan wacana di media, antara bad news dan good news. Makassar atau Sulsel umumnya memang butuh pencitraan,” ujarnya.
Bagaimana melahirkan citra yang baik? menurut Don Bosco, ke depan pemerintah daerah harus bisa “memenangkan” media. “Teknisnya ada dan pasti bisa. Dekati media dan menangkan mereka. Tidak perlu terlalu resah karena demo itu tidak menjadi berita lagi. Saya kira lama-lama juga akan hilang karena orang mulai bosan,” ungkapnya.
Pencitraan buruk yang ada di Sulsel juga tidak terlepas dari anarkisme yang kerap menyertai demonstrasi. Tidak jarang hal ini luput dari pengawasan polisi. Salah satunya kasus pelemparan KFC Jalan Ratulangi 2010 silam.
Pjs Kabid Humas Polda Sulselbar, AKBP Muhammad Siswa yang turur hadir dalam forum mengakui itu. Secara tidak langsung dia menuding ada semacam konspirasi antara mahasiswa dan media.
“Saat itu monitor intelkam kami tidak tahu, tapi melihat di televisi ada tayangannya. Itu seperti ada konspirasi wartawan dan mahasiswa,” urainya yang lantas disambut nada sumbang dari para wartawan.
Raldy Doy, penanggung jawab penyiaran PT Lativi Makassar dan Ambon (TV One Makassar) kemudian menyanggah hal tersebut. Menurut dia, apa yang tersaji di layar kaca adalah bentuk kerja profesional dari seorang wartawan televisi. Dimana mereka harus bekerja profesional dan tetap menjaga keselamatan.
“TV nasibnya bukan diujuk tanduk, tapi di ujung jari. Begitu tidak suka, penonton bisa pindah channel. Perjuangan membangun pencitraan adalah tanggung jawab bersama. Polisi seharusnya jangan kalah cepat dengan TV One dan Metro TV,” katanya, yang langsung disambut teriakan dukungan dari para wartawan dan kontributor televisi jaringan yang hadir malam tadi.
Persoalan pencitraan menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah Sulsel, khususnya Makassar. Menurut Coorporate Secretary MNC TV, Arya Sinulingga pemerintah harus kerja keras.
“Orang-orang di Jakarta harus tahu Makassar itu seperti apa. Sebab yang selama ini diketahui hanya aksi demonstrasi yang merugikan orang lain,” ujarnya.
“Makassar atau Sulsel bisa menjadi pusat berbagai hal di luar Jawa, Makassar memiliki potensi itu. Salah satu solusinya mungkin iklan pariwara, atau bisa juga dengan usaha lain untuk memenangkan media. Sulsel yang punya prestasi luar biasa dan butuh akselarasi,” lanjutnya.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menyambut baik apa yang disampaikan para perwakilan media yang ada dalam dialog awal tahun ini.
“Berbagai upaya optimal akan kami lakukan. Posisi Sulsel yang betul-betul berada di tengah Indonesia bisa menjadi lokomotif pembangunan baru. Sulsel harus menjadi pusat kemajuan dan pertumbuhan pembangunan di luar Jawa. Untuk itu kami butuh bantuan dari media,” pintanya. Red/RG dari Fajar