Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Remotivi, sebuah lembaga pemerhati media, meminta Trans TV menghentikan program "Primitive Runaway" dan meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat adat nusantara. Abdul Nababan, Sekjen AMAN menyatakan organisasinya menerima banyak keluhan tentang program ini dari anggotanya yang terdiri dari 1000 lebih masyarakat adat nusantara. Program "Primitive Runaway" dinilai telah menjadikan budaya adat sebagai bahan olok-olok dan tertawaan. 

Menurut Abdul, permasalahannya adalah cara penyajian program ini yang menyebarluaskan dokumen budaya ini dengan cara mengolok-olok. "Ketika di-shooting mereka diperlakukan baik-baik (oleh masyarakat adat), tapi cara penyajiannya dilihat mereka seperti bahan tertawaan, Jadi mereka (masyarakat adat) tersinggung sekali", tandas Abdul.  Sedangkan Jeffry dari Remotivi menyatakan keberatannya dan meminta konsep dan judul program "Primitive Runaway" diubah. "Jangan kita gunakan TV (yang bersiaran) nasional untuk menghina", kata Jeffry. 

Mahirtakakas dari AMAN juga menambahkan informasi mengenai deklarasi PBB tentang hak masyarakat adat dan  menghilangkan diskriminasi. "Mohon kalimat primitif jangan lagi digunakan untuk menghilangkan diskriminasi (terhadap masyarakat adat)", kata Mahir. Stasiun lain yang terbiasa membuat program dokumenter seperti BBC dan National Geographic juga sepakat tidak menggunakan kata primitif untuk menghilangkan diskriminasi. 

Selain itu, menurut Roy dari Remotivi, ada kejanggalan dalam program ini. Dalam setiap episode ada pemaksaan tradisi kepada artis yang tampil. Di beberapa episode artis dipaksa lepas baju, mengikir gigi, membuat tato dan lain-lain. "Ini pasti rekayasa, saya punya pengalaman di masyarakat adat, mereka tidak pernah memaksakan budaya mereka ke pendatang", kata Roy. 

Sebelumnya kedua lembaga ini juga berkirim surat ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mengeluhkan program ini. Untuk itu, pada Senin, 27 Desember 2010, KPI Pusat menyelenggarakan forum mediasi yang dihadiri AMAN, Remotivi dan Trans TV. Dalam forum mediasi ini, tuntutan AMAN ke Trans TV tetap, yaitu meminta Trans TV menghentikan program ini. AMAN sendiri menyatakan enggan membawa kasus ini melalui jaalur hukum dan sudah membuat pernyataan di media yang meminta Trans menanggapi keluhan mereka. Namun karena pihak Trans TV tidak menanggapi permintaan mereka, maka mereka mengadukan masalah ini ke KPI. 

Aris Ananda, Kepala Divisi Planning dan Schedulling Trans TV yang hadir mewakili Trans TV menyatakan forum ini sangat berharga dan memberikan banyak masukan kepada Trans. Mengenai penggunaan kata primitif, dirinya menyatakan tidak berniat sama sekali mengolok-olok dan merendahkan budaya lain. 

Dalam forum mediasi ini, dari KPI Pusat hadir Dadang Rahmat Hidayat, Ketua, Nina Mutmainnah, Wakil Ketua, Ezki Suyanto, Koordinator Bidang Isi Siaran dan Yazirwan Uyun, Anggota Bidang Isi Siaran. Ezki menyatakan KPI secara internal akan membahas tindakan untuk Trans TV.

Sebagai informasi, saat ini Trans TV telah mengubah judul program tersebut menjadi "Ethnic Runaway". KPI Pusat hingga saat ini masih memantau perbaikan substansi program ini.

Komitmen Memperbaiki 

Selain soal "Primitive Runaway", pada hari sama, dalam forum yang terpisah, Trans TV juga diminta untuk memperbaiki program "Bioskop Trans TV" dan "Bioskop Indonesia". Dalam laporan pemantauan langsung bulan September dan November 2010, kedua program ini mendapatkan perhatian khusus. Untuk itu, Trans TV diminta untuk membuat pernyataan tertulis yang berisi komitmen unutk memperbaiki kedua program ini.Red/SH