Al-Jazeera Dianggap Memprovokasi Demonstran

altPemerintah Mesir mengatakan bahwa pemicu dari kerusuhan dan demonstrasi yang terjadi di Mesir adalah stasiun televisi Al-Jazeera.

Pasukan keamanan pun telah menahan walaupun telah dibebaskan kembali sembilan koresponden Al-Jazeera sejak terjadinya protes bulan lalu. Pemerintah telah melarang stasiun televisi baik berbahasa Arab ataupun Inggris untuk menayangkan dan menarik semua hak para jurnalis. Walaupun mendapat larangan dari pemerintah, stasiun televisi tersebut tetap menayangkan aksi demonstrasi di Mesir.

Minggu lalu, para preman yang pro-pemerintah melakukan pembakaran terhadap stasiun televisi milik Qatar tersebut yang berada di Kairo, bersama dengan semua peralatan yang ada di dalamnya, ini merupakan penyerangan yang makin meluas terhadap para jurnalis yang meliput demonstrasi. Demikian lansir Associated Press, Jumat (11/2/2011).

Sebuah komite yang melindungi jurnalis mengatakan bahwa sekira 71 jurnalis ditahan hingga Senin kemarin. Kini semua sudah dibebaskan kecuali blogger Mesir Abdel Kareem Nabil. Jurnalis luar negeri pun mengalami pelecehan.

Al-Jazeera berhasil mendapatkan siaran yang paling ekslusif terhadap demonstrasi yang terjadi di Mesir dan mendapatkan jumlah pemirsa yang meningkat di Amerika Serikat (AS). Tapi stasiun televisi tersebut kini harus berhadapan dengan pemerintah Mesir yang ingin "mengkandangkan" stasiun televisi paling terkenal di Arab tersebut.

Wakil presiden Omar Suleiman mengatakan bahwa ada beberapa stasiun televisi yang melakukan provokasi kepada para demonstran dan telah menghina Mesir.

Seminggu sebelumnya Suleiman mengatakan: "Saya menyalahkan beberapa rekan dari negeri ini yang memiliki stasiun televisi yang tidak bersahabat yang telah memberikan bahan bakar kepada kaum muda untuk menentang negeri ini dengan mengatakan kebohongan dan menunjukkan situasi yang lebih parah dari ini." Red/RG dari OZ