AJI dan UNICEF Liputan Anak Terbaik
Jakarta - Program siaran stasiun televisi Trans7 berjudul “Tangan-tangan Mungil Pengukir Batu” dan program siaran radio KBR68H berjudul “Anak Cisalada dalam Trauma” memenangkan penghargaan liputan Media Terbaik Anak 2010 yang diadakan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dan UNICEF. Penghargaan senada juga diterima oleh Lentera Timur dengan judul “Anak-anak (menjadi) Perantau” untuk kategori media cetak/online dan Indopos dengan judul “Minim Tempat Bermain” untuk kategori fotografi. Pengumuman dan penyerahan hadiah diadakan di Hotel Arya Duta, Jakarta, 31 Mei 2011 diawali dengan diskusi mengenai Anak-Anak Korban Konflik.
Angela Kearney, Perwakilan UNICEF, dalam pidatonya mengatakan penghargaan ini melegitimasi pentingnya kemitraan yang diperankan media dalam menegakkan hak anak di Indonesia. “UNICEF menghargai media yang membawa cerita dan suara anak-anak kepada kepada masyarakat terutama untuk menyalurkan suaran dari anak-anak yang paling rentan dan paling terpinggirkan,” kata Kearney.
Jajang Jamaluddin, Sekjen AJI Indonesia, dalam pembukaan menekankan peran media dalam perubahan sosial. “Pemberitaan media mengenai anak tidak hanya untuk laporan. Tapi untuk menginformasikan, meningkatkan kesadaran dan membantu yang lainnya berbicara tentang isu-isu serta membuat perubahan,” ungkapnya yang menuturkan pihaknya menerima 318 karya yang dinilai oleh dewan juri dari jurnalis dan ahli anak.
Salah seorang dewan juri untuk kategori tayangan televisi, B. Guntarto menyatakan secara umum masih dijumpai karya liputan anak yang belum menerapkan prinsip ‘for the best interest of the child’ maupun pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran (P3SPS) KPI. Misalnya, penggambaran eksplisit anak dan remaja pelaku kriminal, penyebutan identitas anak dan remaja yang bermasalah dengan mengabaikan hal-hal yang mengganggu perkembangan dan masa depan anak. “Bahkan, dalam salah satu liputan ada yang memperlihatkan alat kelamin anak yang akan disunat tanpa disamarkan, penggunaan anak sebagai narasumber tanpa didampingi orang,” ungkapnya.
Salah satu dewan juri untuk kategori program radio Irma Hidayana menjelaskan pemilihan “Anak Cisalada dan Trauma” karena pertimbangan anak-anak diberi porsi banyak untuk berbicara dan bercerita tentang dirinya. “Ketika mendengarkan karya ini, kita bisa mengetahui bahwa jurnalis menunjukan perhatian dan penghargaannya kepada anak. Ini tercermin dalam pertanyaan yang diajukan, cara (dan nada) bertanya jurnalis,” ungkapnya. Selain itu, lanjut Irma, penyajian liputan didukung dengan ilustrasi musik, harmonisasi narasi, sound bite, klip/insert yang selaras dan berhasil menyentuh pendengar.
Pemberian penghargaan ini juga dihadiri Dadang Rahmat Hidayat, Ketua KPI Pusat dan Ezki Suyanto, Anggota KPI Pusat bidang Isi Siaran, yang didaulat memberikan penghargaan untuk pemenang dari kategori radio. Red/SH