- Details
- Hits: 7791
Jakarta - Survey Indeks Kualitas Program Siaran Televisi mulai diselenggarakan secara marathon di sembilan perguruan tinggi negeri di sembilan kota. Ke-sembilan tempat itu adalah Universitas Sumatera Utara (USU) di Medan, Universitas Airlangga di Surabaya, Universitas Islam Negeri (UIN) di Jakarta, Universitas Hasanuddin di Makassar, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga di Yogyakarta, Universitas Udayana di Bali, Universitas Diponegoro di Semarang, Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon di Ambon. Rektor Universitas Lambung Mangkurat Prof Sutarto Hadi mengatakan, program siaran di televisi kini semakin memprihatinkan karena hanya mengacu pada rating dibanding kualitasnya. Padahal, ujar Sutarto, tidak semua siaran yang banyak penontonnya itu baik bagi masyarkat apalagi perkembangan anak. Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan pelatihan Survey Indeks Kualitas Program Siaran yang dilaksanakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin (23/4).
Secara khusus, Sutarto menyayangkan penyusunan program siaran dari lembaga penyiaran yang hanya didasari pada nilai rating, bukan pada kualitasnya. Untuk itu, dirinya menilai keberadaan survey kepemirsaan yang digagas KPI ini akan memberi penilaian yang berbeda terhadap program siaran yang ditayangkan stasiun televisi. Sutarto berharap, hasil survey kepemirsaan ini dapat dijadikan acuan oleh lembaga penyiaran untuk memperbaiki kualitas siaran yang ada. “Sehingga fungsi pendidikan yang disematkan pada lembaga penyiaran, dapat dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu dalam pelaksanaan survey di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta (28/4), Komisioner KPI Pusat bidang pengawasan isi siaran Rahmat Arifin mengatakan bahwa kementerian Komunikasi dan Informasi telah lama menyampaikan keprihatinannya tentang program-program siaran televisi yang kualitasnya rendah dan tidak mendidik namun ratingnya tinggi. Hal ini menyebabkan acara-acara tersebut mampu bertahan lama karena peminat iklannya tinggi. Setelah dicari tahu, penyebabnya adalah survey yang dilakukan lembaga survey, tidak dilakukan secara representatif dan sesuai dengan keadaan masyarakat yang sesungguhnya. Misalnya, lembaga survey hanya mengambil sampel kelompok masyarakat yang berpendidikan rendah, tidak berkarier dan sebagainya. Namun hasil dari lembaga survey yang sampai saat ini masih dimonopoli oleh satu lembaga inilah yang dijadikan acuan dari seluruh lembaga penyiaran, khususnya televisi.
Dalam kesempatan itu, Wakil Dekan III Fakultas Sosial Humaniora UIN Sunan Kalijaga, Iswandi Syahputra menambahkan, bahwa saat ini masyarakat dihadapkan pada pertelevisian yang menciptakan kebutuhan palsu, menciptakan rasa lelah atau jenuh informasi, menciptakan kontrol palsu dan menciptakan kecenderungan untuk meyakini realitas bagaimana yang dikonstrukkan oleh media. Iswandi menilai, forum-forum seperti ini dimaksudkan untuk menggugah sikap kritis publik terhadap siaran-siaran televisi yang rendah kualitasnya. Sementara, dimata Iswandi, program televisi dikatakan berkualitas bila mengandung unsur Benar, Baik dan Bermanfaat sesuai kebutuhahan dan kepentingan berdasarkan prinsip kemanusiaan.
Dalam Pelaksanaan survey ini, KPI dan KPI Daerah bekerjasama dengan sembilan perguruan tinggi di sembilan provinsi ini mengikutsertakan jajaran pengurus pusat Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI). KPI berharap, survey kepemirsaan yang digelar ini dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai selera masyarakat Indonesia dan penilaiannya terhadap program-program siaran televisi yang ada saat ini. Salah satunya dengan melibatkan responden survey dari kalangan yang lebih variatif, dan sebaran provinsi yang mengikutsertakan tiga wilayah di Indonesia, Ambon (Indonesia Timur), Bali dan Banjarmasin (Indonesia Tengah), dan sisanya dari wilayah Indonesia Barat. Selain itu, survey indeks kualitas program siaran televisi ini akan diselenggarakan selama lima kali sepanjang tahun 2015. Ketua KPI Pusat, Judhariksawan berharap, hasil dari survey yang digelar KPI ini dapat memberikan alternatif bagi lembaga penyiaran, serta para pemasang iklan di televisi, mengenai kualitas program-program siaran yang ada sekarang. “KPI berharap para pemasang iklan juga menyadari kontribusinya merawat bangsa ini dengan hanya memasang iklan di program-program yang berkualitas baik. Sehingga program-program dengan kualitas rendah, sebanyak apapun penontonnya, tidak akan bertahan lama di layar kaca,” pungkas Judha.

Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menerima kunjungan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Padang (UNP) dalam rangka belajar tentang penyiaran dan untuk mengetahui secara langsung sistem kerja pemantauan program acara dari Lembaga Penyiaran. Acara berlangsung pada, Selasa, 28 April 2015 di Ruang Rapat KPI Pusat, Jakarta yang diikuti oleh 50 mahasiswa dan empat dosen pembimbing.

Jakarta – KPI Pusat menginginkan tayangan yang tidak pantas dan bertentangan dengan etika jurnalistik dalam program pemberitaan di sejumlah televisi dihilangkan. Keinginan ini sesuai dengan prinsip jurnalistik yakni memberikan edukasi yang baik serta aman untuk publik.
Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mendukung penguatan kelembagaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam revisi undang-undang penyiaran yang tengah dibahas oleh Komisi I DPR-RI. Hal tersebut disampaikan Ketua AJI, Suwarjono, dalam audiensi dengan KPI Pusat bersama jajaran pengurus AJI yang baru saja terpilih, (28/4).
Jakarta – Kompas TV dan RCTI mendapatkan teguran tertulis dari KPI Pusat. Sanksi diberikan karena program acara “Satu Meja : Prostitusi Terbuka di Dunia Maya” yang disiarkan Kompas TV dan “Satria Garuda Bima-X” di RCTI kedapatan melakukan pelanggaran terhadap P3 dan SPS KPI tahun 2012. Hal itu disampaikan Ketua KPI Pusat, Judhariksawan, dalam dua surat teguran yang dilayangkan Jumat pekan lalu, 24 April 2015.

