KPI Serukan Kolaborasi Antarpihak dalam Menjaga Ekosistem Penyiaran Kepulauan
- Details
- Written by IRA
- Hits: 1047

Jakarta - Kehadiran regulasi penyiaran di tingkat daerah dengan ciri khas yang belum diatur dalam peraturan perundang-undangan di atasnya, harus direalisasikan dalam usaha memperbaiki ekosistem penyiaran mulai dari lingkup lokal. Untuk itu, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Mohamad Reza mengusulkan adanya Peraturan Daerah (Perda) terkait penyiaran kepulauan di provinsi Maluku saat berdiskusi tentang Penguatan Ekosistem Penyiaran di Daerah Kepulauan, yang diselenggarakan oleh KPI Daerah Maluku, di Jakarta (11/12). Pertemuan ini juga dihadiri oleh Ketua KPI Pusat Ubaidillah, Koordinator Bidang Pengembangan Kebijakan dan Sistem Penyiarna (PKSP) KPI Pusat Muhammad Hasrul Hasan, Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur George Watubun, Ketua Komisi I DPRD Maluku Solichin Button, dan perwakilan lembaga penyiaran termasuk juga Dewan Pengawas TVRI Hardly Stefano Pariela.
Kondisi Maluku sebagai provinsi kepulauan memiliki karakteristik yang istimewa dan tidak dapat disamakan dengan provinsi lainnya. Dari data yang dimiliki KPI Pusat, tercatat ada 35 lembaga penyiaran yang bersiaran di provinsi Maluku. “Pada prakteknya siaran hanya berpusat di kota Ambon dan kabupaten yang dekat dengan ibukota provinsi,” ujarnya. Sedangkan jika melihat realitas saat ini, dari 35 lembaga penyiaran tersebut sudah banyak yang tidak lagi bersiaran. Karenanya Reza meminta KPID Maluku segera menjalankan proses rekomendasi pencabutan izin dikarenakan sudah tidak bersiaran, merujuk pada Peraturan KPI nomor 2 tahun 2023 tentang Tata Cara Pengajuan Rekomendasi Pencabutan, Izin Penyelenggaraan Penyiaran Karena Tidak Melakukan Siaran.
Bicara soal penyiaran di daerah kepulauan, menurut Solichin Button, tantangan yang dihadapi Maluku memang luar biasa. Ekosistem penyiaran, diakuinya, sebagai bagian penting dari pelestarian budaya lokal. “Kondisi lembaga penyiaran di Maluku sangat miris,” ujarnya. Tidak ada lembaga penyiaran lokal dan kalaupun ada lembaga penyiaran swasta (LPS) berjaringan itu hanya menjangkau di 4 kabupaten/ kota. Padahal masyarakat di luar 4 kabupaten/ kota tersebut juga membutuhkan siaran televisi, terangnya. Saat Piala Dunia, masyarakat di kota Ambon bisa mengaksesnya lewat MNC. Tapi untuk yang tinggal di Pulau Buru misalnya, tentu perlu effort tambahan seperti beli paket internet terlebih dahulu. Karenanya, Solichin menegaskan, sebagai anggota DPRD yang punya mandat dari publik, tentunya sangat mendukung adanya usulan tentang aturan yang harus dibuat dalam rangka mendukung pengembangan ekosistem penyiaran di daerah kepulauan.

Reza menyampaikan pula program Survey Minat Kepentingan dan Kenyamanan (MKK) Publik yang sudah tuntas disusun oleh KPI Pusat. Dengan adanya pedoman MKK ini, survey dapat dilakukan tidak saja di Ambon tapi juga di daerah-daerah lain di privinsi Maluku sebagai dasar pengukuran media habbits dari masyarakat. “Sehingga kita tidak lagi mengukur dengan asumsi pribadi soal penggunaan media di masyarakat,” tambahnya. Bahwa memang ada penetrasi gadget di masyarakat memang harus diakui realitasnya. “Tapi tidak dapat disamaratakan bahwa televisi dan radio sudah terganti dengan gadget di semua tempat,” tegas Reza.
Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjajaran ini menyerukan kolaborasi antarpihak terkait pada sektor penyiaran. “Kalau kita lihat di digital sekarang, lagu-lagu timur sedang menginvasi Indonesia. Tapi penyiaran di Indonesia bagan timur juga semakin miris!” Harusnya, ekosistem yang ada di internet internasional dapat menginspirasi bangkitnya penyiaran di daerah.

KPID harus dapat berlaku sebagai Connecting People, ujar Reza. Misalnya dengan mengorganisir pelaku konten kreator lokal dan menjadikan lembaga penyiaran sebagai distributornya. “Yang penting, tempatkan siaran lokal pada jam yang layak dan penontonnya banyak,” ujarnya. Pesan Reza, saat ini perusahaan multinasional sudah mulai masuk mengakuisis banyak perusahaan lokal. Jangan sampai konten-konten lokal diproduksi mereka dengan hak cipta yang juga dimiliki mereka. Padahal kitalah seharusnya yang menikmati berkah keragaman Indonesia ini.
KPI Anugerahi “Lifetime Achievement” untuk Abdulrachman Saleh
- Details
- Written by RG
- Hits: 8038

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan penghargaan lifetime achievement (prestasi seumur hidup) kepada mendiang Abdulrachman Saleh dalam ajang Anugerah KPI 2025. Penghargaan ini diberikan atas jasa besar Almarhum terhadap perkembangan penyiaran di tanah air. Salah satunya menggagas berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) beberapa bulan setelah Indonesia merdeka.
Penghargaan diberikan langsung Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, kepada perwakilan keluarga Almarhum pada acara puncak Anugerah KPI 2025 yang disiarkan secara langsung oleh Nusantara TV, Rabu (10/12/2025) malam.
“Kami atas nama keluarga mengucapkan terima kasih atas penghargaan ini. Ini adalah penghargaan yang kami terima setelah almarhum meninggal sekitar tahun 1947. Terima kasih,” kata perwakilan keluarga Almarhum sesaat setelah menerima penghargaan tersebut.
Abdulrachman Saleh lahir di Kampung Ketapang (Kwitang Barat), Batavia, Hindia Belanda (sekarang Jakarta, Indonesia) pada tanggal 1 Juli 1909. Orang tuanya adalah Mohammad Saleh, seorang dokter terkenal, dan Emma Naimah Saleh (née Moehsin). Ia mengikuti jejak ayahnya dan belajar untuk menjadi dokter di sebuah perguruan tinggi kedokteran untuk orang Indonesia, School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Karena STOVIA ditutup sebelum ia menyelesaikan studinya, ia melanjutkan studinya di perguruan tinggi kedokteran lain, Geneeskundige Hoge School (GHS). Karena rambutnya yang keriting, teman-temannya mulai memanggilnya "Karbol" yang diambil dari bahasa Belanda Krullebol yang berarti "rambut keriting".
Selama kuliah kedokteran, Karbol bergabung dengan berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, organisasi kepanduan Indonesische Padvinderij Organisatie, dan klub olahraga lainnya. Ia juga mengembangkan minatnya di bidang penyiaran radio dan penerbangan. Ia bergabung dengan klub penerbangan di Batavia dan berhasil memperoleh lisensi pilot.
Setelah menamatkan pendidikan kedokteran pada tahun 1937, ia melanjutkan pendidikan di bidang fisiologi dan menjadi dosen di perguruan tinggi kedokteran Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya pada tahun 1942. Ia kemudian kembali ke Batavia sebagai dosen di almamaternya, GHS, dan dipromosikan menjadi profesor penuh.
Di luar karier medisnya, Saleh juga diangkat sebagai pimpinan organisasi penyiaran radio bernama Vereniging voor Oosterse Radio Omroep (VORO). Pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia dengan keahliannya berperan penting dalam menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan ke seluruh negeri. Saat itu, ia secara sembunyi-sembunyi mendirikan tiang pemancar untuk menyebarkan berita tersebut.
Seperti kutipan yang sering dikaitkan dengannya, "Kemerdekaan harus diperjuangkan dengan segala daya dan upaya, termasuk melalui media". Hingga kemudian Karbol terlibat dalam pendirian Lembaga Penyiaran Publik Indonesia (Radio Republik Indonesia/RRI) pada tanggal 11 September 1945.
Setelah merasa yakin bahwa lembaga radio Indonesia berada di tangan yang tepat, ia mengundurkan diri dari jabatannya di sana dan bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia untuk membantu pembentukan TNI Angkatan Udara bersama Agustinus Adisoetjipto, mantan muridnya di GHS. Ia kemudian bertugas sebagai instruktur penerbangan di Sekolah Penerbangan yang baru didirikan di Yogyakarta, di Lapangan Udara Maguwo.
Dalam aksi pertama dari dua aksi polisionil Belanda terhadap Republik Indonesia, Agresi Militer Belanda I, Saleh dan Adisoetjipto diperintahkan untuk terbang ke India. Mereka berhasil menembus blokade udara yang dilakukan oleh Angkatan Udara Belanda, yang meliputi wilayah udara dari Indonesia ke India dan Pakistan. Namun, dalam perjalanan pulang dari Singapura, saat mengangkut bantuan obat-obatan sumbangan dari Palang Merah Malaya di Singapura, pesawat Dakota yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh dua pesawat P-40 Kittyhawk milik Belanda di Dusun Ngoto pada tanggal 29 Juli 1947. Abdulrachman Saleh gugur dalam tugas mulia tersebut. Sisa-sisa pesawat yang ditumpanginya dapat dilihat di Museum Dirgantara Mandala.
Abdulrachman Saleh telah lama meninggalkan kita dan bangsa ini. Namun semangat juang, keberanian, dan juga perhatiannya terhadap penyiaran di tanah air tidak akan lekang oleh waktu. Kami bangga padamu Karbol. ***

Renungan dari Bencana Alam Sumatera dan Kondisi Lembaga Penyiaran Saat Ini
- Details
- Written by RG
- Hits: 1393

Jakarta -- Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, menyampaikan dua renungan yang muncul atas pertanyaan seputar bencana yang terjadi di Sumatra, yang pemberitaannya disebutkan tidak seintens bencana gempa dan tsunami Aceh pada 2004 silam.
Berdasarkan penelusurannya bersama para pelaku penyiaran di daerah, jumlah jurnalis dan distributor informasi kini jauh berkurang. Bahkan, di beberapa wilayah hanya tersisa satu hingga dua orang saja.
“Kenyataan ini memunculkan dua renungan. Pertama, tentang skala bencana yang melanda Sumatra. Dan kedua, tentang “bencana ekonomi” yang dialami TV dan radio,” kata Ubaidillah di sela-sela sambutannya di acara Anugerah KPI 2025 di NT Tower, Rabu (10/12/2025).
Ia menegaskan bahwa dalam kondisi apa pun, terutama saat terjadi bencana, informasi tetap merupakan kebutuhan fundamental untuk menyampaikan informasi secara menyeluruh kepada masyarakat. Namun ironisnya, beban itu kini dipikul oleh jumlah pekerja yang sangat minim.
“Tapi yang perlu dicatat, dalam kondisi apapun di tengah kondisi penyiaran yang penuh peluh perjuangan, TV dan radio berusaha berjuang menyajikan informasi kepada masyarakat, sesuai dengan penyiaran berdaulat yang kami maksudkan,” jelas Ubaidillah.
Meski demikian, ia memberikan apresiasi tinggi kepada lembaga penyiaran televisi dan radio yang tetap menunjukkan komitmen menghadirkan informasi valid dan bertanggung jawab bagi publik. Menurut Ubaid, semangat gotong royong, persatuan, dan kekompakan yang disuarakan melalui layar televisi dan saluran radio menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan tidak pernah pudar, bahkan di tengah derasnya viralitas dan tantangan ekonomi.
Ia pun menyatakan keyakinannya bahwa penyiaran Indonesia akan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga kepentingan publik, keberagaman, serta berpihak pada kebenaran.
Dalam kesempatan itu, Ketua KPI Pusat juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, DPRD, serta seluruh tim yang terlibat dalam proses pembentukan KPID. Ia menegaskan bahwa kehadiran KPID Kalimantan Utara akan melengkapi 34 KPID di seluruh Indonesia, sebuah langkah penting mengingat besarnya kebutuhan pengawasan penyiaran di daerah perbatasan.
Di penghujung sambutan, Ubaidillah menyampaikan terima kasih kepada para mitra, nominee, serta seluruh lembaga penyiaran yang terus menjaga keragaman siaran melalui karya terbaik, kreativitas, dan inovasi. Sebelumnya, dia mengawali gelaran Anugerah KPI 2025 dengan doa bersama bagi masyarakat Sumatra yang terdampak bencana. */Anggita Rend/Foto: Agung R
Inilah Pemenang Anugerah KPI 2025
- Details
- Written by RG
- Hits: 7465

Berikut Pemenang Anugerah KPI 2025:
1. Kategori Perbatasan dan Daerah Tertinggal
Pemenang TV : SIN PO TV
Pemenang Radio : RRI Ende
2. Kategori Berita
TV - TV One (Kabar Petang)
Radio - RRI Yogyakarta (Warta Siang - Gradiasi Wahana Difabel Mencintai Politik)
3. Kategori Iklan Layanan Masyarakat
Pemenang TV : TVRI
Pemenang Radio : RRI Nabire
4. Kategori Program Peduli Perempuan
Pemenang TV : METRO TV
Pemenang Radio : RRI Surabaya
5. Kategori Program Lembaga Penyiaran Swasta Lokal Terbaik Televisi dan Radio
Pemenang TV : KSTV Kediri
Pemenang Radio : JhonLin Radio Batulicin
6. Kategori Program Lembaga Penyiaran Publik Lokal Terbaik Televisi dan Radio
Pemenang TV : SELAPARANG TV
Pemenang Radio : LPPL Buana Asri Sragen
7. Kategori Program Wisata Budaya
Pemenang TV : Garuda TV
Pemenang Radio : Fast FM Magelang
8. Kategori Program Talkshow
Pemenang TV : NTV
Pemenang Radio: Rewako FM Gowa
9. Kategori Lembaga Penyiaran Komunitas
Pemenang TV komunitas : Divia Unpad TV
Pemenang radio komunitas: EBS FM Unhas
10. Kategori Peduli Disabilitas
Pemenang TV : TVRI
Pemenang Radio: LPPL RKPD Denpasar Bali
11. Lifetime Achievement : Abdulrachman Saleh
Foto: Agung R

