Pangkalpinang - Generasi milenial yang memiliki kecenderungan selalu aktif, kreatif dan inovatif merupakan aset bagi pengembangan kualitas penyiaran di tanah air. Kemampuan yang dibekali kepiawaian memanfaatkan teknologi dan saluran media sosial diharapkan dapat membantu mewujudkan siaran yang sehat dan berkualitas.

Pandangan tersebut disampaikan Komisioner KPI Pusat, Nuning Rodiyah, saat menjadi narasumber  kegiatan Workshop Literasi Media Digital  dengan tema “Peran dan Partisipasi Generasi Milenial dalam Pengawasan Isi Siaran Televisi dan Radio” di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (17/10/2019).

“Untuk dapat mewujudkan kualitas tersebut mereka dapat melakukan penetrasi terhadap selera menonton masyarakat dengan cara mengadukan konten yang tidak berkualitas dan memviralkan konten siaran yang baik dan berkualitas,” lanjut Nuning di depan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Sidiq.

Para mahasiswa yang masuk dalam kelompok milenial, kata Komisioner bidang Kelembagaan KPI Pusat ini, tidak semata-mata hanya menyampaikan pengaduan tetapi secara sistematis dan konstruktif memberikan kontribusi berupa kajian untuk rumusan kebijakan penyiaran di Indonesia. “Rumusan kebijakan ini akan menjadi masukan dan bahan pertimbangan lain dari sudut pandang akademis yang bisa digunakan untuk pengembangan kebijakan penyiaran sekarang maupun ke depan,” tambah Nuning.

Selain itu, lanjut Nuning, mahasiswa harus ikut mendorong partisipasi masyarakat dalam pengawasan program siaran melalui gerakan literasi media. “Upaya memberikan literasi kepada masyarakat ini harus dilakukan secara massif dan tanpa lelah. Sebagai mahasiswa, kita ikut bertanggungjawab menyampaikan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi publik,” katanya saat dihubungi kpi.go.id.   

Dalam kesempatan itu, Nuning berharap dan mendorong seluruh civitas akademika IAIN Syaikh Abdurrahman Sidiq untuk melakukan penelitian dan kajian tentang dinamika penyiaran. Penelitian dan kajian ini nantinya akan jadi rujukan bagi industri penyiaran khususnya di wilayah Bangka-Belitung. ***

 

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia mendukung upaya pengembangan penyiaran digital di wilayah perbatasan dan kebijakan siaran simulcast, siaran bersamaan antara digital dan analog, di wilayah 3T (Tertinggal, Terluar dan Terdepan). Pengembangan siaran di wilayah tersebut akan memberi dampak positif dan pemerataan informasi bagi publik. 

Hal itu disampaikan Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, saat menjadi narasumber Sosialisasi Regulasi dan Kebijakan Penyelenggaraan Penyiaran dengan tema “Penyiaran Televisi Secara Simulcast di Wilayah Perbatasan Negara” yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Penyiaran di wilayah perbatasan, baik siaran nasional dan lokal, pengaruhnya sangat besar untuk menguatkan nilai-nilai kebangsaan dan daerah. Hal ini akan memberi daya tahan masyarakat akan pengaruh siaran asing terutama terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Siaran ini juga penting dalam melayani kebutuhan informasi untuk masyarakat khususnya di wilayah tersebut,” kata Agung.

KPI sejak 2016 telah melakukan upaya untuk menguatkan penyiaran di perbatasan dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan seperti lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran publik, Pemerintah melalui berbagai diskusi. Bahkan, kata Agung, pihaknya memberikan kemudahan proses perizinan pada lembaga penyiaran yang ingin bersiaran di wilayah 3T seperti di Nunukan dan Miangas. 

“Kami pernah bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia. Saat itu, KPI mempermudah izin radio komunitas di wilayah perbatasan. Waktu itu penyiarnya dari TNI meskipun ada problem sektoral karena tidak ada tupoksi seorang TNI menjadi penyiaran. Jadi mereka menjadi penyiar secara sukarela di wilayah perbatasan. Itu salah satu kilas balik KPI mendukung upaya penyiaran di wilayah seperti di perbatasan,” cerita Agung Suprio.

Direktur Penyiaran Kemkominfo, Geryantika,  mengatakan Kominfo telah mengeluarkan sejumlah kebijakan pendukung pelaksanaan sistem penyiaran tersebut melalui Permen No. 3 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan Penyiaran Simulcast dalam Rangka Persiapan Migrasi Sistem Penyiaran Televisi Analog ke Sistem Penyiaran Digital. Bahkan, pihaknya membuat kebijakan lanjutan melalui Permen Kominfo No. 4 Tahun 2019.  

Menurutnya, tahapan siaran simulcast akan dimulai dari perbatasan. Siaran di wilayah Nunukan menghadirkan lembaga penyiaran Metro TV dan Trans TV. “Di Nunukan tidak ada siaran televisi analog,” kata Gery, panggilan akrabnya.

Sementara itu, Staf Ahli bidang Hukum Kemkominfo, Prof. Henri Subiakto, mengatakan Indonesia tertinggal dalam melaksanakan siaran digital.  Pembicaraan ini, lanjut dia, telah berlangsung sejak 2012 lalu. Namun hal itu tetap harus dilaksanakan, apalagi sudah terbit Permen soal simulcast. 

“Pada tahun 2013, Thailand belajar kepada kita tentang proses digitalisasi. Pada saat itu, kita sudah mempunyai road map tentang digital. Tetapi dalam perjalanannya, kita hanya merencanakan tidak kunjung terjadi. Singapore sudah memulai Switch Off, begitu juga dengan negara-negara tetangga. Kita sangat tertinggal,” kata Henry.

Henry mengatakan, ada 17 muks yang sudah siap digunakan yang dibangun oleh TVRI dan BAKTI. Penggunaannaya akan dimulai dari pinggiran. “Kita harapkan, bapak-bapak bisa menggunakan muks yang sudah tersedia. Keuntungannya adalah untuk menyebarluaskan tayangan televisi swasta,” paparnya di tempat yang sama. ***

Sentul -- Sidang Pleno Rapat Pimpinan Komisi Penyiaran Indonesia 2019 yang dihadiri unsur Pimpinan KPID dari 33 Provinsi menyepakati rekomendasi tiga bidang yakni Kelembagaan, Pengawasan Isi Siaran dan Pengelolaan Struktur Sistem Penyiaran (PS2P), Kamis (10/9/2019). Rekomendasi dihasilkan melalui pembahasan yang dinamis dengan antusiasme tinggi peserta menyampaikan pendapat dan pandangan. 

Sejak awal sidang yang dipimpin Koordinator Bidang Kelembagaan KPI Pusat Irsal Ambia dibuka dengan agenda pembahasan rekomendasi, para peserta langsung mengajukan berbagai masukan, pertanyaan dan sanggahan terkait rencana isi rekomendasi. Beberapa hal utama yang dikemukakan peserta menyangkut perubahan Peraturan KPI tentang Kelembagaan terkait pembentukan etika kolegial Anggota KPI. 

Menurut para peserta, keberadaan etika kolegial ini sangat mendesak untuk menguatkan kepercayaan publik dan juga kredibilitas lembaga. “Lembaga ini perlu membuat aturan tentang etika kolegial Anggota KPI. Etika ini untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga ini,” kata Wirdayanti Wakil Ketua KPID Lampung di sela-sela Sidang Pleno yang berlangsung di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. 

Perdebatan yang tak kalah serunya terjadi saat membahas rekomendasi pelaksanaan siaran konten lokal lembaga penyiaran. Pembahasan ini menghasilkan poin menyangkut perlunya peningkatan sumber daya manusia dan industri kreatif lokal, pelibatan SDM lokal, isi konten harus berkaitan dengan sejumlah aspek seperti sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Siaran lokal harus ditayangkan secara relay dari Ibu Kota Provinsi dalam wilayah layanan siaran dan minimal satu jam tayangan disiarkan pada pukul 05.00-22.00 waktu setempat.

Namun begitu, para peserta sangat antusias dan setuju sepenuhnya dengan rekomendasi rencana revisi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI tahun 2012 ditegaskan dalam rekomendasi Rapim. Bahkan, pelaksanaan revisi ini dengan membentuk tim kerja dan akan mulai berjalan awal November mendatang. 

Selain itu, rekomendasi lain yang dibahas terkait komponen penilaian evaluasi uji coba siaran atau EUCS permohonan atau perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) melalui online single submission (OSS). Poin tentang penilaian ini dapat dilihat dalam hasil Rekomendasi Rapim KPI 2019 yang ditandatangani Ketua KPI Pusat, Agung Suprio dan perwakilan Pimpinan KPID antara lain Ketua KPI Aceh, Ketua KPID Riau dan Ketua KPID Jawa Barat. 

Sidang Pleno Rapim KPI ini, hadir Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, Wakil Ketua KPI Pusat, Mulyo Hadi Purnomo, Komisioner KPI Pusat, Irsal Ambia, Hardly Stefano, Mohamad Reza, Aswar Hasan, Mimah Susanti, Yuliandre Darwis dan Nuning Rodiyah. ***

Link Rekomendasi Rapim KPI 2019

Jakarta - Seleksi anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Papua periode 2019-2022 telah melewati uji kepatutan dan kelayakan di Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua. Panitia seleksi menetapkan 11 nama ditambah 3 orang petahana dari KPI Papua, untuk mengikuti seleksi tahap akhir yang ditentukan oleh DPR tersebut. Hal tersebut disampaikan oleh Tan Wie Long, Wakil Ketua Komisi I DPR Papua saat memimpin delegasi dari Papua ke KPI Pusat, (14/10). 

Dalam kesempatan tersebut delegasi Papua yang hadir terdiri atas tim panitia seleksi , Dinas Komunikasi dan Informatika, serta DPR Papua. Kehadiran mereka diterima langsung oleh Ketua KPI Pusat Agung Suprio yang didampingi Komisioner KPI Pusat Koordinator bidang Kelembagaan Irsal Ambia dan Komisioner KPI Pusat bidang Kelembagaan Yuliandre Darwis. 

Dalam proses seleksi ini, awalnya peminat yang mendaftarkan diri sebagai calon anggota KPI Papua mencapai 75 orang. Selama proses berjalan dengan melakukan wawancara dan uji kompetensi, panitia seleksi berhasil memilih sebelas nama yang lulus seleksi  untuk ditambah tiga orang petahana KPI Papua guna diajukan ke Komisi I DPR. Adapun nama-nama yang terpilih untuk menjadi anggota KPI Papua akan diumumkan langsung oleh DPR Papua.

Pada pertemuan ini, Agung Suprio memaparkan pola hubungan antara KPI Daerah dengan KPI Pusat yang koordinatif. Konsekuensinya adalah,  anggaran untuk KPID dibebankan pada APBD, pemilihan KPID dilakukan oleh DPRD, dan tugas pengawasan konten televisi dan radio juga meliputi televisi lokal dan radio yang bersiaran pada wilayah tersebut.  Selain itu Agung menyampaikan bahwa kondisi KPI di daerah saat ini membutuhkan support dari pemerintah provinsi, terutama masalah anggaran. Dipaparkan oleh Agung, anggaran yang dibutuhkan KPID setidaknya untuk operasional kesekretariatan, alat pemantauan untuk pengawasan isi siaran, serta untuk koordinasi dengan KPI Pusat dan KPI Daerah lainnya dalam rangka menyelaraskan pengawasan isi siaran sebagaimana amanah Undang-Undang Penyiaran. Secara khusus, Agung juga berharap, KPI Papua yang terpilih dapat memperjuangkan konten siaran di Papua yang sesuai dengan aspirasi rakyat Papua.  

Senada dengan hal tersebut, Irsal Ambia menyampaikan pula kritiknya terhadap konten siaran saat ini yang terlalu Jakarta Sentris. Selain mengingatkan tentang amanat konten lokal, Irsal juga menyampaikan harapannya agar KPI Papua memberikan support terhadap eksistensi radio di provinsi tersebut. “Bagaimana pun juga radio memberikan informasi yang jernih, lebih akurat dan terpercaya disbanding informasi di dunia maya”, ujarnya. Selain itu, support kepada radio dapat memberikan kontribusi positif baik dalam pembangunan di Papua maupun kehidupan bermasyarakat di provinsi paling timur Indonesia. 

Harapan atas dukungan pada KPI Papua juga disampaikan oleh Yuliandre Darwis, Di berharap DPR Papua memperhatikan kondisi kantor KPI Papua yang masih sewa hingga saat ini. Yuliandre juga merinci kebutuhan apa yang dibutuhkan KPID agar dapat tegak menjalankan regulasi, khususnya pengawasan konten lokal yang merupakan cerminan dari kepentingan rakyat Papua.

Sebelum kunjungan dilanjutkan dengan meninjau ruang pemantauan KPI Pusat, secara simbolis KPI Pusat menerima laporan tertulis dari proses seleksi anggota KPI Papua periode 2019-2022 yang disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Komisi I DPR Papua, Tan Wie Liong.  

  

 

Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, menyampaikan sambutan awal pembukaan acara Rapat Pimpinan (Rapim) KPI 2019 di Istana Wapres, Rabu (9/10/2019).

Jakarta – Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Agung Suprio, menilai penguatan eksistensi dan kredibilitasb KPI dapat dilakukan melalui dua cara yakni penguatan secara regulasi dan penguatan secara kelembagaan. Karena itu, pengesahan Undang-undang Penyiaran mendesak dilakukan untuk mendorong penguatan tersebut.

Hal itu disampaikan Agung Suprio, ketika memberi sambutan awal acara pembukaan Rapat Pimpinan KPI 2019 di Istana  Wakil Presiden, Rabu (9/10/2019).

“KPI memandang perlu pengesahan RUU Penyiaran untuk disegerakan. Ini menyangkut pengawasan serta tugas fungsi lainnya. Mengingat tantangan kita ke depan, hal ini sangat berbeda dari pada tahun 2002 yang lalu. Kita harus menyadari bahwa perkembangan dalam lanskap penyiaran sudah sangat pesat,” papar Agung Suprio di depan Wapres Jusuf Kalla dan tamu undangan pembukaan Rapim KPI.

Selanjutnya, yang tak kalah penting dan menjadi prioritas adalah penguatan kelembagaan KPID. Hal ini terkait banyaknya KPID yang membutuhkan supporting operasional dari Pemerintah Daerah. Bantuan berupa keberadaan sekretariat serta alokasi anggaran untuk menjalankan tugas dan fungsinya. “Keberadaan KPI, baik pusat maupun daerah, selain sangat besar perannya juga sudah diamanahkan dalam UU Penyiaran kita,” tuturnya. 

Dalam kesempatan itu, Agung berharap dukungan maksimal terhadap lembaganya guna melaksanakan tugas-tugas penyiaran untuk meneguhkan integrasi nasional sesuai amanah UU Penyiaran. “Karenanya, pengesahan revisi Undang-Undang Penyiaran dan penguatan kelembagaan KPID sangat penting untuk disegerakan guna mewujudkan hal itu,” pintanya.

Di sela-sela laporannya ke Wapres, Ketua KPI Pusat menyampaikan Rapat Pimpinan yang digelar 2 hari kedepan akan mengangkat tema “Penguatan Eksistensi dan Kredibilitas KPI untuk Penyiaran yang Bermartabat”. Tema ini berangkat dari respon kita terhadap keadaan nasional maupun global yang mempunyai pengaruh strategis dalam dunia penyiaran.

Agung juga mengingatkan semua pihak untuk berhati-hati mengakses informasi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Pasalnya, tidak jarang didapati informasi dengan kandungan nilai yang bertolak belakang dengan nilai kebangsaan kita. “Ujaran kebencian, fitnah, hoaks kerap menjadi konsumsi sehari-hari kita. Akhirnya, tidak sedikit kita saling menaruh curiga antar sesama akibat informasi yang kita konsumsi dangkal dalam hal verifikasi,” ujarnya.

Fenomena itu, lanjut Agung, menjadi tantangan dan pekerjaan bagi semua pihak. Menurutnya, konvergensi media tak hanya berisi nilai-nilai positif, tapi lambat laun akan mengubah pola komunikasi dan interaksi sosial yang kadang menyajikan informasi yang justru memecah tali persaudaraan. “Untuk itu, kajian-kajian media dengan platform digital yang selama ini kita jumpai sehari-hari sangat diperlukan baik secara regulasi maupun proses pengawasannya,” tutupnya. ***

 

Hak Cipta © 2019 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.