Jakarta - Media sebagai pilar demokrasi seharusnya tetap pada ideologinya, bijak di garis tidak berpihak. Namun sayangnya, hari ini kita telah melihat media yang telah terpolarisasi. Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Muhammad, dalam acara peresmian Gugus Tugas Pengawasan Penyiaran Pemberitaan dan Iklan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden di Jakarta (3/6).

“Hari ini kita menyaksikan sebuah fenomena, seakan-anak pilpres itu adalah perhelatan pemilu yang sangat keras, dan media ikut-ikutan mengesankan itu”, ujar Muhammad. Padahal dalam pandangannya, seharusnyalah media mengajak anak bangsa menikmati pemilihan presiden ini dengan cara yang teduh. “Dan media harus jadi lokomotis bagi hadirnya pemilihan presiden yang terhormat”, tambahnya. 

Bawaslu sendiri merupakan leading sector dari Gugus Tugas yang didalamnya juga tergabung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Komisi Informasi Pusat (KIP).

Muhammad menegaskan bahwa substansi  pemilihan presiden ini adalah bagaimana bangsa Indonesia dapat mengantarkan suksesi kepemimpinan nasional dengan cara yang bermartabat. “Kecurangan walaupun menang tetaplah hina, dan kebenaran walaupun kalah tetaplah mulia”, ujarnya.

Bawaslu menyadari betul bahwa ukuran keberhasilan lembaga ini bukan dari berapa banyak rekomendasi yang diberikan atas pelanggaran pemilu. Tapi dari berapa banyak Bawaslu membuat pencegahan terjadinya pelanggaran. “Sayangnya teman-teman mediaTuga tidak melihat itu”, tukasnya.

Muhammad menegaskan bahwa Gugus Tugas juga merupakan simbol moral force, kekuatan moral. “Intinya kembali pada capres dan masyarakat, bagaimana menghadirkan kompetisi yang terhormat”, pungkasnya.

Hak Cipta © 2020 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.