Follow KPI on Twitter

Abaikan Keputusan KPI, Acara “Pagi Pagi Pasti Happy” Trans TV Dihentikan Selama 10 Hari Penayangan

KPI Keluarkan Surat Edaran Tentang Peran Serta Lembaga Penyiaran Dalam Penanggulangan Persebaran Wabah Corona

KPI Hentikan Tayangan “Brownis” Trans TV

Media Berperan Wujudkan Solidaritas Sosial dan Partisipasi Publik Untuk Tanggulangi COVID 19

Nama Pemenang Anugerah KPI 2019

TERKINI
Ramadan 2020 Lahirkan Banyak Program Berkualitas

Ramadan 2020 Lahirkan Banyak Program Berkualitas

22 Mei 2020

Komisioner KPI Pusat, Nuning Rodiyah. Jakarta -- Tak lama lagi, Ramadan tahun 2020 akan meninggalkan kita. Ini pun akan diikuti...

Media Arus Utama Sebagai Agen Validasi Informasi 

Media Arus Utama Sebagai Agen Validasi Informasi 

21 Mei 2020

Komisioner KPI Pusat, Yuliandre Darwis. Jakarta – Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis, mengatakan fitur media mainstream kini...

Banyak Muatan Kekerasan: KPI Tegur Sinetron “Muslimah” ANTV

Banyak Muatan Kekerasan: KPI Tegur Sinetron “Muslimah” ANTV

20 Mei 2020

Jakarta – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat memutuskan memberi sanksi untuk program acara “Muslimah” di ANTV. Tayangan sinetron bertajuk religi...

KPI Sesalkan Adanya “Pelesetan” Merendahkan Suku di Program Siaran

KPI Sesalkan Adanya “Pelesetan” Merendahkan Suku di Program Siaran

19 Mei 2020

Komisioner KPI Pusat, Nuning Rodiyah. Jakarta – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyesalkan adanya pelesetan (lelucon) dalam program siaran “Ini Ramadan”...

Generasi Millenial dan Pola Kehidupan New Normal 

Generasi Millenial dan Pola Kehidupan New Normal 

19 Mei 2020

Komisioner KPI Pusat, Yuliandre Darwis. Jakarta - Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis, mengatakan pada era globalisasi serta...

DINAMIKA PENYIARAN

Media Penyiaran Terbesar Filipina Berhenti Siaran Usai Dilarang Mengudara

Media Penyiaran Terbesar Filipina Berhenti Siaran Usai Dilarang Mengudara

06 Mei 2020

Manila - Badan regulasi telekomunikasi Filipina memerintahkan media penyiaran terbesar di Filipina, ABS-CBN, menghentikan operasi dengan alasan lisensi mereka telah...

Usulan Italia Gratiskan Siaran Pertandingan Sepak Bola Ditolak

Usulan Italia Gratiskan Siaran Pertandingan Sepak Bola Ditolak

27 April 2020

Italia - Sebuah proposal dari Kementerian Olahraga Italia untuk menyiarkan pertandingan sepak bola secara gratis di saluran televisi setempat ditolak...

BBC Pangkas 450 Karyawan

BBC Pangkas 450 Karyawan

11 Februari 2020

Inggris – Zaman yang kian modern membuat BBC harus memangkas 450 pekerjanya sebagai upaya dari rencana modernisasi yang akan mengalihkan...

AS Mulai Terapkan Teknologi ATSC 3.0 Tahun Ini

AS Mulai Terapkan Teknologi ATSC 3.0 Tahun Ini

31 Januari 2020

Washington -- International Telecommunication Union (ITU) merekomendasikan ATSC 3.0 sebagai standar siaran digital, hal itu diharapkan menjadi awal bagi negara-negara...

Serial TV Turki Digemari Penonton Di 146 Negara

Serial TV Turki Digemari Penonton Di 146 Negara

10 Desember 2019

Ankara - Dari Eropa hingga Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika dan AS, serial TV Turki telah memikat 700 juta penggemar....

BERITA KPID

Juni, Pemprov Lampung Buka Pendaftaran Calon Anggota KPID

Juni, Pemprov Lampung Buka Pendaftaran Calon Anggota KPID

30 Mei 2020

Bandarlampung – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) Provinsi Lampung akan membuka pendaftaran calon anggota...

Maksimalkan Pencegahan Covid 19, Gubernur Sulsel dan KPID Gunakan Media Penyiaran Sebagai Tempat Sosialisasi

Maksimalkan Pencegahan Covid 19, Gubernur Sulsel dan KPID Gunakan Media Penyiaran Sebagai Tempat Sosialisasi

29 Mei 2020

Makassar – Untuk lebih memaksimalkan pencegahan dan penanganan Covid 19, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah...

 KPID NTB Kembali Ingatkan Peran Penting Pers Di Masa Pandemi

KPID NTB Kembali Ingatkan Peran Penting Pers Di Masa Pandemi

14 Mei 2020

Mataram – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTB kembali mengingatkan pentingnya peran pers dan lembaga penyiaran di masa pandemi Covid-19,...

KPID dan HIMPSI Jateng Sediakan Pusat Layanan Telekonseling Gratis bagi Masyarakat

KPID dan HIMPSI Jateng Sediakan Pusat Layanan Telekonseling Gratis bagi Masyarakat

05 Mei 2020

Batang - Dinas Kominfo Kabupaten Batang mengikuti rakor melalui video conference yang diselenggarakan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa...

KPID Terus Lakukan Pengawasan Protokol COVID-19 di Lembaga Penyiaran

KPID Terus Lakukan Pengawasan Protokol COVID-19 di Lembaga Penyiaran

28 April 2020

Jakarta - Komisi Penyiaran Informasi Daerah (KPID) Provinsi DKI Jakarta terus melakukan pengawasan kepatuhan penerapan protokol kesehatan COVID-19 di lembaga...

VIDEO
AGENDA
No upcoming event!
NEWSLETTER

GALERI FOTO
June 2020
Mo Tu We Th Fr Sa Su
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 1 2 3 4 5
KAJIAN

Mengubah Kebiasaan Menunggu Bedug di Tengah Covid-19

Mengubah Kebiasaan Menunggu Bedug di Tengah Covid-19

15 Mei 2020

Jakarta - Ada budaya menunggu bedug magrib di saat Ramadhan. Kita mengenalnya dengan istilah ngabuburit. Menurut Kamus Bahasa Sunda yang...

HARSIARNAS TANPA SEREMONI

HARSIARNAS TANPA SEREMONI

07 April 2020

HARSIARNAS TANPA SEREMONI Oleh: DR.H.Aswar Hasan (Komisioner KPI Pusat Bidang PS2P) Hari Penyiaran Nasional (HARSIARNAS) kali ini tanpa ada perayaan...

1 April Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) Sistem Stasiun Jaringan (SSJ) dan Radikalisme di Indonesia

1 April Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) Sistem Stasiun Jaringan (SSJ) dan Radikalisme di Indonesia

01 April 2020

1 April Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) Sistem Stasiun Jaringan (SSJ) dan Radikalisme di Indonesia Oleh: Hari Wiryawan, SH, MA Universitas...

Lembaga Penyiaran Harus Independen

Lembaga Penyiaran Harus Independen

13 Desember 2019

Lembaga Penyiaran Harus Independen Oleh: ASWAR HASAN KPI ( Komisi Penyiaran Indonesia ) patut berbangga karena acara RAMPIMNAS (Rapat Pimpinan...

Anak dan Godaan Media, Sebuah Ikhtiar untuk Konsep Informasi Layak Anak (ILA)

Anak dan Godaan Media, Sebuah Ikhtiar untuk Konsep Informasi Layak Anak (ILA)

29 Oktober 2019

Anak dan Godaan Media Sebuah Ikhtiar untuk Konsep Informasi Layak Anak (ILA) Oleh : Alwi Sagaf Alhadar Ketua Komisi Penyiaran...

9 Perintis Penyiaran Indonesia 


Oleh
Hari Wiryawan*)
Direktur Lembaga Pers dan Penyiaran Surakarta (LPPS)



Penetapan Harsiarnas oleh Pemerintah RI tidak disertai dengan penetapan Bapak Penyiaran Indonesia. Padahal dalam dua deklarasi Harsiarnas sebelumnya di Solo yaitu tanggal 1 April 2009 dan 1 April 2010 usulan Harsiarnas dan BPI adalah satu paket.


Mangkunagoro VII diusulkan sebagai Bapak Penyiaran karena ia memprakarsai berdirinya SRV 1 April 1933, sebagai stasiun radio pertama milik bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia. Oleh karena itu 1 April layak dijadikan sebagai Harsiarnas, sebaliknya SRV bisa berdiri 1 April 1933 karena prakarsa MN VII. SRV dan MN VII saling berkaitan, karena itu usulan Harsiarnas dan Bapak Penyiaran adalah satu paket. Batalnya MN VII ditetapkan sebagai Bapak Penyiaran Indonesia lebih banyak disebabkan karena MN VII adalah sosok yang kurang dikenal, termasuk di kalangan penyiaran sendiri. 


 Sebagian besar tokoh dalam perintisan dunia penyiaran di Indonesia kurang atau tidak dikenal masyarakat. Buku sejarah yang diajarkan di sekolah juga tidak banyak mengungkap peran penting media penyiaran dalam sejarah perjuangan bangsa. Jika ada penulisan sejarah perjuangan bangsa yang berkaitan dengan ”peran media penyiaran” biasanya merujuk pada  peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Di sini tokoh Bung Tomo sangat menonjol. (Waid, 2014; Arvian (peny). 201; Parera (peny).1982)


Para Perintis Penyiaran Indonesia 
Selain Mangkunagoro VII, terdapat sejumlah tokoh yang merintis dunia penyiaran pada akhir dekade 1920-an hingga dekade 1940-an antara lain adalah: 1. Sarsito Mangunkusumo (Ketua SRV) 2. Sutarjo Kartohadikusumo (Ketua PPRK; anggota Volksraad) 3. Abdulrahman Saleh (Ketua VORO; Kepala RRI pertama) 4. Maladi (Kepala RRI kedua; Menteri Penerangan) 5. Bung Tomo (orator peristiwa 10 November 1945) 6. Jusuf Ronodipuro (penyiar naskah Proklamasi) 7. Haji Agus Salim (penyiar agama Islam) dan 8 Gusti Nurul (putri MN VII).


Generasi Sebelum dan setelah Proklamasi Kemerdekaan
Tokoh-tokoh tersebut memiliki perannya yang penting dalam bidang penyiaran pada awal perkembangan radio di Indonesia. Mereka berjasa dalam dunia penyiaran atau menggunakan penyiaran sebagai alat perjuangan bangsa. Para tokoh itu ada yang dikenal sebagai praktisi radio yaitu Maladi, Abdulrahman Saleh, Jusuf Ronodipuro, Bung Tomo, dan Haji Agus Salim, tapi ada pula yang bukan praktisi radio namun berperan penting dalam pengembangan radio yaitu Sarsito Mangunkusumo, Sutarjo Kartohadikusumo, Gusti Nurul.  

Jika kedelapan orang tersebut dikelompokkan dalam generasi “sebelum kemerdekaan” dan “setelah kemerdekaan”, maka akan terbagi sebagai berikut:
Generasi Sebelum Kemerdekaan: Sarsito Mangunkusumo, Sutarjo Kartohadikusumo, Haji Agus Salim dan Gusti Nurul. Para tokoh ini bergiat dalam bidang penyiaran pada masa penjajahan Belanda.

Sarsito Mangunkusumo (1897-1987) adalah tangan kanan MN VII dalam bidang penyiaran. Ia mengenal radio sejak akhir dekade 1920-an. Sarsito berjasa meletakkan dasar-dasar pengelolaan (manajemen) radio Ketimuran (radio pribumi), membantu dan membina sejumlah radio Ketimuran di Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta dan Surabaya. Sarsito menjadi tempat bertanya para aktivis Radio Ketimuran yang baru mendirikan stasiun radio. Sarsito memimpin berbagai pertemuan Radio Ketimuran baik di Solo maupun di luar kota. Ia berpengalaman luas karena memimpin SRV selama 9 tahun, 1933-1942. Ia juga memiliki hubungan yang luas dengan kalangan perusahaan pos dan telegrap Belanda-PTT Bandung. Sebagai seorang insinyur lulusan Delft University, Belanda ia juga sebagai  Kepala Dinas Pekerjaan Umum Praja Mangkunegaran. Bersama Sutarjo Kartohadikusumo mengelola asosiasi radio “Perikatan Perkumpulana Radio Ketimuran” (PPRK).

Sutarjo Kartohadikusumo (1892-1976) adalah seorang politisi yang terkenal. Ia menjadi anggota Volksraad, sebuah parlemen bentukan Pemerintah Hindia Belanda. Ketika Sutarjo di Volksraad, Radio Ketimuran  menghadapi masalah dalam hubungannya dengan NIROM (Netherlands Indicshe Radio Oemroep Maschappij). Pada saat itulah Sutarjo membantu memperjuangkan Radio Ketimuran untuk memperolah hak-haknya dalam perundingan dengan NIROM. Sutarjo dianggap berhasil menjembatani konflik Radio Ketimuran yang diwakili oleh PPRK dengan NIROM. Soetarjo kurang lebih berusia sebaya dengan Sarsito, namun dalam percaturan politik di tingkat nasional Sutarjo lebih menonjol dari para Sarsito. Oleh karena itu ketika pemilihan Ketua PPRK, Sutarjo terpilih sebagai ketua. Sementara Sarsito menjadi sekretaris/ bendahara. Sarsito berpengalaman dalam masalah penyiaran, Sutarjo berpengalaman dalam bidang politik, karena Sutarjo adalah anggota Volksraad bersama Haji Agus Salim. 

Haji Agus Salim juga dikenal sebagai politisi ulung di Volksraad. Pengalaman hidupnya lengkap dari mulai sebagai pegawai Konsulat Belanda di  Arab Saudi yang direkrut Snouck Hurgronje sampai menjadi pimpinan partai politik. Agus Salim adalah orang kedua setelah Cokroaminoto dalam Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Setelah Cokroaminoto wafat, Agus Salim malah tersingkir dari PSII. Dia lalu mencoba untuk beralih melakukan kegiatan dakwah. Kegiatannya sebagai mubaligh ini mengantarkan Agus Salim berkenalan dengan radio yang digunakan sebagai media dakwah. Agus Salim menggunakan Radio Ketimuran Vereeniging Oostersche voor Radio Oemroep (VORO) dan radio Belanda (NIROM) untuk menyampaikan dakwahnya. Jika Haji Agus Salim dikenal dengan suaranya maka Gusti Nurul dikenal dikalangan radio karena tariannya. (Panitia Buku 1984; Zulkifli dkk (Peny). 2013).

Gusti Nurul adalah putri MN VII. Gadis cantik itu dikenal dalam dunia penyiaran radio karena banyak mewakili ayahandanya. Ia melakukan sejumlah seremoni penyiaran atas nama MN VII pada usia remaja, antara lain adalah: meresmikan peletakan batu pertama gedung studio SRV, meresmikan penggunaan gedung studio radio SRV, meresmikan penggunaan pemancar baru SRV. Peran yang paling fenomenal adalah menari di negeri Belanda dengan iringan gamelan dari Solo yang dipancarkan melalui SRV. Karena apa yang dilakukan itu atas perintah ayahandanya maka Gusti Nurul mengatakan bahwa dirinya seperti wayang yang digerakkan ayahnya sebagai dalang, ”saya ini hanya sebagai kelinci percobaan,” katanya. (Wawancara 2006, 2009 dan 2013).

Setelah Jepang masuk, Gusti Nurul tak pernah lagi mewakili ayahnya di SRV.  Haji Agus Salim tidak lagi bersiaran di NIROM maupun VORO karena keduanya ditutup Jepang. Sutarjo sebagai Ketua PPRK tidak terdengar lagi kegiatannya karena seluruh radio dibreidel  1942 dan digantikan radio Jepang Hoso Kanry Kyoko. Sarsito Mangunkusumo menyerahkan seluruh kendali penyiaran di SRV kepada Maladi. 

Maladi dan Abdulrahman Saleh adalah dua tokoh yang yang telah tercatat sebagai orang radio yang masuk dalam Generasi sebelum Kemerdekaan, tapi sekaligus juga masuk dalam Generasi setelah Kemerdekaan.

Abdulraman Saleh tercatat sebagai Ketua stasiun radio VORO periode 1936-1939.  Abdulrahman Saleh, adalah seorang yang multi talenta, di bidang radio ia ahli tehnik, ia juga dikenal sebagai dokter. Setelah Indonesia  merdeka Abdulrahman Saleh masuk sebagai anggota Angkatan Udara RI. Ketika para aktivis radio dari berbagai kota berkumpul di Jakarta, mereka rapat di rumah Adang Kadarusman, lalu mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI), 11 September 1945 dan memilih Abdulrahman Saleh sebagai ketuanya. Dalam pertemuan itu hadir pula penggerak pertemuan: Maladi.

Maladi sebelumnya telah aktif bekerja di SRV Solo, khususnya penyiar olah raga (Berita Sport). Tidak lama kemudian posisi Maladi naik menjadi pengurus di SRV, yang diketuai Sarsito Mangunkusumo. Ketika Jepang menduduki SRV, Maladi yang menghadapinya. Maladi segera melapor ke Sarsito untuk urusan dengan radio Jepang. Maladi menjadi satu-satunya Pribumi yang mengepalai stasiun Hosokyoku. Setelah Indonesia merdeka, Maladi punya gagasan perlunya memiliki organisasi radio. Ia lalu  menghubungi teman-temanya di berbagai kota. Komunikasi ini  bisa lancar karena sebagian besar mereka telah bekerjasama di PPRK ketika masa Radio Ketimuran. Setahun setelah RRI berdiri,  Maladi menggantikan Abdulrahman Saleh sebagai Kepala RRI Pusat, ketika itu yang bertindak sebagai Kepala RRI Jakarta adalah Jusuf Ronodipuro. 

Jusuf Ronodipuro mulai bekerja di bidang radio pada zaman Jepang. Pada waktu itu ia sedang mencari pekerjaan di Jakarta dan bertemu dengan Sukarni (pemuda yang menculik Bung Karno ke Rangkasdengklok). Jusuf lalu bekerja di Barisan Propaganda Jepang (Sendenbu). (Isnaeni (ed) 2015 h. 129). Setelah bekerja di situ, lalu pindah di kantor kebudayaaan Jepang dan kemudian pindah ke Hosso Kyoku Jakarta. Namanya melambung setelah Proklamasi Kemerdekaan yaitu ketika malam hari 17 Agustus 1945 sekitar pukul 19.00, ia membacakan naskah Proklamasi yang siang sebelumnya dibaca oleh Bung Karno. Naskah proklamasi itu ia dapat dari seorang wartawan kantor berita Jepang Domei bernama Syachrudin yang memasuki gedung studio radio Hosokyoku dari tembok belakang. Jusuf Ronodipuro dkk kemudian disiksa secara fisik. (Kemenpen RI (1953) dan Hendri F Isnaeni (2015). Namun Jusuf Ronodipuro selamat sehingga ketika para aktivis radio dari berbagai kota berkumpul di Jakarta, Jusuf bisa ikut rapat pendirian RRI. Jusuf Ronodipuro adalah salah satu tokoh penyiaran yang muncul sebagai Generasi Setelah Kemerdekaan, di samping nama lain yaitu Bung Tomo (Sutomo).

Ketika suatu hari melawat ke Jakarta, Bung Tomo kecewa melihat kendaraan Sekutu  lalu lalang, tanpa hambatan. Pemerintah dan rakyat tidak berbuat apa-apa. Bung Tomo tidak rela jika kota asalnya yaitu Surabaya juga diinjak-injak Sekutu. Ia lalu pulang mendirikan stasiun radio di Surabaya untuk menggerakan semangat juang rakyat agar situasi itu (leluasanya tentara Sekutu) tidak terjadi di Surabaya. (Tim Tempo, 20I6).

Bung Tomo waktu itu adalah Kepala Seksi Penerangan organisasi gerilyawan bernama Pemuda Republik Indonesia (PRI). Ia lalu mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), 12 Oktober 1945. BPRI juga mendirikan stasiun radio yang bernama “Radio Pemberontakan”. Melalui siaran radio itu Bung Tomo menggerakkan arek-arek Surabaya melawan Sekutu. Ketika stasiun radio Pemberontakan belum rampung dibangun, Bung Tomo berpidato di studio RRI, namun dibuat seolah-olah RRI merelay dari Radio Pemberontakan Rakyat milik Bung Tomo. (50 tahun RRI Yogyakarta, 1995 ).
 

Hak Cipta © 2020 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.